Akan ku mulai kisah ini dengan sedikit harap-harap cemas
dan sesajen lengkap kepada arwah para leluhur yang mengetahui dengan pasti
bagaimana jalan cerita ini terjadi. Tak luput juga telah ku siapkan dada ayam
dengan tulang-tulang terbaik dan daging-daging tergemuk agar mulut-mulut yang
hendak mencemooh jalan cerita ini tersumpal ayam bakar dan tak sanggup lagi
berkoar-koar. Engkau yang merasa paham dengan apa yang tengah dikisahkan, mohon
diamlah. Beri kesempatan kepada kebenaran untuk unjuk gigi dihadapan semua
orang dengan pongah; layaknya seorang pahlawan menang perang yang meminum
anggur dari cawan tengkorak lawan. Pahamilah dengan sungguh-sungguh, bahwa ini
sekali-kali bukanlah sebuah niatan buruk.
***
Disebabkan
karena aku tidak rela wilayah kekuasaannya seluas nusantara padahal ia hanya
perempuan biasa yang mendapatkan tahta dari warisan bapaknya, ku putuskan untuk
berontak dan merongrong kerajaannya. Aku –dengan caraku sendiri, ingin
mengajarinya bagaimana harusnya menjadi seorang ratu dari kerajaan sebesar
Majapahit yang gemah ripah loh jinawi2).
Agar ia tak menjadi ratu yang hanya bisa mengacungkan jemari lentiknya ketika
menginginkan sesuatu. Agar ia merasakan bagaimana rasanya jadi aku; jatuh
bangun, terluka, terperosok, terjerembab, tersakiti dengan taruhan nyawa demi mendapatkan
posisi sebagai pemimpin di suatu wilayah kecil yang hanya sepersekian persen
dari keseluruhan wilayah Majapahit.
Nyatanya
ia masih gagap juga menerima pembelajaran dariku, sekalipun sudah ku uji sekian
kali dengan berbagai pemberontakan, mulai dari skala kecil hingga sangat besar.
Mulai dari mengorbankan nyawa prajurit-prajurit pilihan hingga membuat ribuan
gadis-gadis perawan di Majapahit kehilangan calon suaminya. Semuanya tak lantas
membuat Kencana Wungu berpikir untuk mundur dan mengalah. Egoisnya –yang
diturunkan oleh sang ayah, justru membuatnya menanggapi gempuranku dengan lebih
dahsyat dari yang bisa ku bayangkan sebelumnya. Kelak, bila aku telah berpulang
dan kepalaku telah terpenggal, biar ku ceritakan kepada semua orang bahwa aku
bangga bisa membuat ratu dari kerajaan sebesar Majapahit kebakaran jenggot dan
kehilangan wibawanya.
Sudah ku duga jauh-jauh hari sebelumnya, akan ada suatu malam
yang agak asin dengan sisa-sisa semburat candikala berwarna merah kekuningan
dimana pada hari itu tampillah jajaran Dharmaputra Winehsuka3) di
tengah alun-alun kerajaan yang sarat akan keramaian. Seseorang diantara mereka
membuka gulungan sebuah perkamen dari daun lontar dan kemudian membacakannya
dengan sangat lantang. Aku masih ingat betul, kala itu seorang mata-mata
melaporkan padaku bahwa namaku disebut sebanyak dua kali dalam pengumuman itu.
Sayembara yang membuat telingaku gatal dan merah-merah hampir seminggu lamanya
itu berbunyi, “Barang siapa berhasil menumpas Kebo Marcuet dan menyerahkan
penggalan kepala pemberontak Majapahit itu, bila perempuan akan diangkat
sebagai saudara Ratu Ayu dan bila laki-laki akan dijadikan suami serta
mendampingi sang ratu memimpin Majapahit. Segerakanlah mencari Kebo Marcuet
dengan segala upaya, maka niscaya keberuntungan akan menjadi milikmu.”
Tak lama
setelah sayembara itu santer terdengar, dengan sangat terkutuk datanglah
seorang lelaki berwajah tampan yang sempat ku kira adalah ksatria kahyangan –mengetuk
pintu kerajaan dengan tangan mengepal dan tekad yang bulatnya melebihi
sempurnanya sudut-sudut bulan pada saat purnama.
“Mau apa
kau kemari? Tempatmu di kahyangan bersama dengan para bidadari yang rupawannya
sepadan denganmu, bukan disini. Relakah kau bila wajah tampanmu berubah
bopeng-bopeng, kakimu pincang, tanganmu tak utuh dan dadamu yang bidang tegap
itu ku bungkukkan?”
Jagat
dewa batara jadi saksi, sebuah nama telah menjadi korban kelicikan Dewi Suhita4)
yang pertama kali.
***
Disebabkan karena aku seorang ksatria dengan kesaktian
mandraguna yang ditakuti kekejamannya oleh seluruh Jawadwipa, maka sudah
sepantasnya aku merasa patut menyandingkan diri dengannya. Ratu itu –siapapun
tahu namanya, sebab ialah perempuan paling anggun di seluruh jagat raya. Sebab
namanya berulang kali disebut oleh adipati-adipati dari kadipaten kecil yang
tidak punya nyali untuk mendekatinya sekalipun mereka jatuh cinta dengan amat
sangat; sama sepertiku. Sebab senandung untuknya dikumandangkan oleh semesta
pada sunyinya malam ketika ia hendak berangkat ke peraduannya yang terbuat dari
beludu berwarna emas. Sebab pada setiap jangkah langkah kaki yang ia tapakkan
di hadapan kaum lelaki telah membangkitkan gairah kejantanan kami untuk
bersanding dengannya. Singkatnya, ia adalah manifestasi utuh dari yang jagat
raya sebut sebagai “sempurna”.
Sayembaranya
yang menggoda syaraf-syaraf panca indraku itu akhirnya membuatku melangkah
dengan tegap memasuki wilayah kerajaan Majapahit dengan membawa sepenggal
kepala yang sudah terpisah dari badannya. Dengan mata berbinar dan jantung yang
tiada henti berdegup kencang sebab sebentar lagi aku akan naik tahta menjadi
raja Majapahit, ku serahkan penggalan kepala berbungkus selembar batik itu
kepada kanjeng Suhita. Kalau aku tak salah ingat, saat itu ia mengerling padaku
dengan raut wajah jijiknya seraya berkata, “Siapakah engkau gerangan yang buruk
rupa namun sakti mandraguna sehingga mampu menumpas Kebo Marcuet?”
Semesta,
sayang sekali ia tidak berkesempatan melihat ketampananku sebelum berperang
melawan Kebo Marcuet. Bukan salah takdir bila akhirnya ia memutuskan untuk
tidak menepati janjinya seperti yang tertera pada pengumuman dan sayembara demi
dilihatnya wajahku yang penuh gores luka sana-sini dan bolong di beberapa
bagiannya. Diberinya aku hadiah pertama berupa kadipaten Blambangan, namun
diingkarinya janji untuk bersuamikan aku yang telah berhasil mempersembahkan
kepala Kebo Marcuet kehadapannya.
Rupanya
ada hal lain yang luput tidak diajarkan oleh Kebo Marcuet selama masa
pemberontakannya kepada Ratu Ayu Kencana Wungu, tentang bagaimana harus
menghargai kerja keras orang lain yang telah mengorbankan segalanya demi
memenuhi panggilan sebagai ksatria; tentang bagaimana menjaga kehormatan dan
wibawa dengan tidak menjilat ludah sendiri, mengingkari janji dengan teramat
sengaja. Barangkali itulah pelajaran yang harus ku ajarkan sendiri padanya
–pada ratuku yang telah membuatku jatuh hati dengan sangat telaknya.
Ku
ajarkan padanya segala hal yang baik-baik, sekalipun dengan cara yang teramat
buruk. Ku ajari ia cara memperjuangkan cinta kepada seseorang melalui setiap
tebasan pusaka yang menggorok leher setiap prajurit Majapahit yang berusaha
menghalangiku bertemu dengannya. Ku ajari ia cara menepati janji melalui satu
demi satu pemberontakan yang ku rencanakan. Dan segala pembelajaran yang hendak
ku sampaikan menjadi percuma dan tiada guna tatkala ia lebih memilih
bersembunyi di balik sayembara keduanya yang berbunyi, “Minakjingga telah
membelot dan melakukan pemberontakan besar-besaran kepada Majapahit. Maka
dengan ini aku sampaikan bahwa siapapun yang berhasil mengalahkannya dan
membawakan padaku penggalan kepala adipati Blambangan, akan ku jadikan suami
sekaligus raja di Majapahit.”
Seorang pemuda, yang tampannya setara dengan ketampananku
dahulu, melakukan apa yang dulu ku lakukan terhadap Kebo Marcuet. Tidak
mengapa, barangkali ia benar-benar belum tahu seperti apa perempuan yang
bisanya hanya bersembunyi dibalik ketidakberdayaan dengan mengadakan perulangan
sayembara yang sama bunyinya.
Sekali
lagi, dewa batara akan menulis ini sebagai wujud kelicikan Dewi Suhita yang
kedua kali.
***
Disebabkan karena aku hanya seorang pengasuh kuda di
kepatihan yang jatuh hati kepada gadis bungsu anak dari seorang maha patih
terkemuka di Majapahit, maka tidak sepantasnya aku merasa patut menyandingkan
diri dengannya. Telah ku cukupkan dalam hatiku nama Dewi Anjasmara sebagai
satu-satunya yang ingin ku rengkuh dalam setiap malam yang selama ini selalu ku
tenun sendirian. Tak sedetik pun sempat terlintas dalam pikiranku untuk
menduakan cinta manakala pada suatu sore yang pucat dan agak mendung itu Patih
Logender berjalan dengan penuh wibawa menuju ke alun-alun kerajaan untuk
membacakan sebuah pengumuman penting dari sang ratu. Di belakangnya, nampak
seorang perempuan dengan kecantikan dan keanggunan luar biasa yang dengan
meliriknya sekilas saja, ia telah mampu menyihir lelaki manapun agar tak
mengedipkan mata ketika melihatnya.
Lalu, menjadi salah siapa ketika di kemudian hari dewata
agung memberiku wajah yang begitu tampan dengan segudang kekuatan yang pada
akhirnya berhasil membawaku ke hadapan sang ratu dengan penggalan kepala
Minakjingga sebagai wujud baktiku kepada Majapahit? Nyatanya, ketampananku bukan
hanya mampu membuat kedua istri Minakjingga takluk sehingga mau memberitahukan
kelemahan suaminya padaku, tetapi juga mampu membuat sang ratu tak henti
memandangku. Pada akhirnya, aku tak tahan juga mendiamkan Kencana Wungu yang
tiada henti menagih janji kapan aku akan menikahinya di hadapan seluruh rakyat
Majapahit.
Kali ini
apa-apa yang telah dibelajarkan oleh kedua pemberontak terhebat sepanjang zaman
Majapahit –Kebo Marcuet dan Minakjingga– mulai nampak hasilnya. Kencana Wungu
tak lagi mengingkari janji, disebabkan karena aku pulang dengan tubuh yang utuh
dan ketampanan yang tak berkurang sedikitpun. Kami pun menikah dan dijadikannya
aku Raja Brawijaya II yang tidak hanya bertahta di singgasana Majapahit
melainkan juga di hatinya.
Barangkali
telah menjadi garis tanganku bila akulah yang ditugaskan untuk menyampaikan
pembelajaran terakhir sekaligus paling penting kepada istriku, Kencana Wungu
yang anggun nan cantik itu. Bahwa segala hal yang dimulai dari sebuah
perlombaan hanya akan melahirkan seorang pemenang, bukannya seorang pecinta
sejati. Maka aku tak segan-segan menolak titahnya manakala pada suatu malam
yang hening ketika nafasnya terasa dekat sekali dengan leherku, ia berkata
manja, “Aku ingin jadi satu-satunya di hidupmu, Kanda. Tinggalkanlah
Anjasmara.”
Denyut
nadiku tersentak bagai tersengat aliran listrik, gendang telingaku terasa gatal
dan hidungku kembang kempis kemerahan menahan marah yang merah. “Apa-apaan
engkau ini?” bentakku. Wajah ayunya seketika berubah menjadi sayup, menandakan
bahwa ia tak suka titahnya dibantah.
“Sudah
seminggu engkau menduduki tahta Majapahit dan menyandingku dengan begitu
gagahnya. Tak ada yang tak hormat padamu disebabkan karena apa-apa yang telah
ku bagi secara sukarela: mahkota, harta, kedudukan, kekuasaan, dan segala
kesempurnaan. Ku kira kepala Minakjingga saja tak cukup sebagai timbal baliknya”,
ungkap istriku mencurahkan isi hatinya.
Sehabis
berkata demikian, Kencana Wungu menyandarkan kepalanya ke dada bidangku. Kedua
tangannya yang putih mulus karena setiap hari bermandikan lulur susu melingkar
dengan anggun di punggungku yang tegap. Dilepaskannya mahkota kerajaan yang
menyembunyikan rambut harum nan hitamnya, sehingga untaian rambutnya kini bebas
membelai wajahku. Aku hanya diam seribu bahasa, mematungkan diri menjadi arca
dihadapannya. Melihatku tidak menampakkan reaksi apa-apa, ia kembali bertanya,
kali ini dengan nada paling sarkatis yang pernah ku dengar, “Engkau masih
mencintaiku, Kanda?”
Gelengan
kepalaku sebagai jawabannya menjadi awal dari segala petaka. Langit fajar
Majapahit yang merekah mekar ketika ditumbuhi sinar-sinar matahari menjadi
saksi pelarianku membawa serta Anjasmara ke tempat yang paling aman dari
jangkauannya. Ku bawa pergi tambatan hatiku, pemilik sejati denyut nadi dan
detakan jantungku. Tak ku relakan tulang rusukku dicederai, apalagi oleh orang
yang mengaku mencintaiku dengan sangat. Rasakanlah, Suhita, ini buah dari semua
kelicikanmu selama engkau bersembunyi di balik mahkota kekuasaanmu.
Tetapi Suhita tidak akan bergelar Tribuwana Tungga Dewi
kalau ia tak memiliki banyak cara licik untuk memenuhi maunya. Diadakannya
sayembara ketiga, kali ini aku sebagai targetnya. Sayembara itu berbunyi,
“Prabu kalian yang sekaligus ialah suamiku hilang akal karena telah dengan
sengaja mengkhianati Majapahit dan mendustai titahku. Barang siapa yang
menyerahkannya padaku dalam keadaan hidup dan mati, bila perempuan akan ku
angkat sebagai penggantiku dan bila laki-laki akan ku jadikan suamiku.”
Kali ini
jagat dewa batara sudah lelah bila harus mencatat kelicikan Dewi Suhita untuk
yang kesekian kalinya. Maka mereka biarkan saja segala tindakan ratu Majapahit
itu semaunya.
***
Dan pada akhirnya, ia mengulangi lagi kelicikannya dengan
cara yang sama. Semua yang merasa pintar seharusnya menyadari permainan bulus
apa yang sedang diperankan oleh sang ratu. Yang tidak cukup pintar untuk
menarik kesimpulan, sebaiknya mundur jauh dari jangkauan dan kerlingannya.
Sebab bila ia tidak, ia akan menjadikanmu kepala keempat sebagai penghias
dinding kamarnya. Ya, kepala keempat setelah sayembara memenggal kepala KePenulbo
Marcuet dimenangkan oleh Minakjingga, kemudian kepala Minakjingga ditebas
dengan gada rujak pala oleh Damarwulan dan yang terakhir kepala seseorang yang
namanya tak kuasa ia sebutkan.
Ambillah ia selagi kau masih ingin. Sebelum pada akhirnya, kau pun akan
mengerti seperti apa perempuan yang kepadanyalah kepalaku ingin kau
persembahkan.
Sebuah kalimat diucapkan secara bersamaan oleh tiga
penggal kepala yang terletak disamping tempat tidur Ratu Ayu Kencana Wungu:
kepala Kebo Marcuet, kepala Minakjingga dan yang terakhir ialah penggalan
kepala kesayangan sang ratu –penggalan kepala milik seorang pemuda tampan yang
membuatnya tidak berkedip bila memandang, dari dulu hingga sekarang. ♦
Keterangan:
1) bahasa
Sansekerta, artinya Tiga Penggal Kepala
2) peribahasa
jawa yang menggambarkan sebuah negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ruah
3) sebutan
untuk jajaran penasehat kerajaan di Majapahit
4)nama
lain dari Ratu Ayu Kencana Wungu
Cerpen ini Juara II Lomba Cerpen se-UM oleh HMJ Sastra Indonesia tahun 2014
Penulis: Novia Anggraini