Sabtu, 20 Februari 2016

Diam Untuk yang Terkenang

Ilustrasi oleh hercampus

Aku memuntahkan rayuan pada secarik kertas yang kutemukan dari laci lusut
Di dalamnya terdapat rekaman deret potongan lagu yang kusebut
Dulu, aku hanya memutarnya pada malam dengan mata terpejam
Setelahnya, aku terbangun dan tak sengaja menatap wajah berbeda pada
orang yang sama

Pada mata itu, aku menemukan bahagia dalam mataku
Pada mata itu, aku menemukan mata jenuh dalam matamu

Lalu pada lembar kedua, aku bahkan menemukan gantungan jawab yang menjulur
Terombang abing pada keputusan untuk keluar atau menyimpan

Lalu pada lembar terakhir aku menemukan kertas putih
Aku berhenti menulismu
Sebab, tiada kata yang wajib kutulis selain diam pada kenang
Dan pada sudut kertas terakhir
Aku menemukan titik sebagai tanda berakhir

Teruntukmu yang terkenang




Penulis adalah mahasiswi jurusan Psikologi
Universitas Negeri Malang




Penulis: Ida Assyaida

Mentah

Ilustrasi oleh Indianapublicmedia

Duduk dan cangkir
menunggu senyum manis
Datang dan pergi

Resah mencari jawaban
Melamar uang
hanya dengan ijazah

Empat tahun bersamanya
Anggap kau masa depan
Buku

Lemas langkahmu
Tertutup semua pintu harapan
Sia-sia

Kau coba dan kau ulangi
Tidak ada lowongan
Sia-sia

Maaf
Ibu




Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang




Penulis: Khoirul Muttaqin

Jumat, 19 Februari 2016

Pengantin Bergaun Polkadot Merah

Ilustrasi oleh Google

Mendadak hening. Setiap gerakan membeku tiba-tiba. Bahkan tarikan napas tak sedikit pun terdengar. Semua mata tertuju pada satu titik. Hanya bunyi napasku yang terengah-engah setelah aku selesai dengan apa yang kulakukan. Lalu tiba-tiba semua gaduh.
***
“Maaf, Hana.” Ucapmu lirih di seberang sana. Aku hanya bisa membisu. Lalu nada statis terdengar di telingaku. Ya, inilah telepon terakhirmu yang juga menandakan akhir kebersamaan kita. Tak apa, aku meyakinkan diri. Mataku mulai dipenuhi cairan bening itu. Ini bukan hal yang buruk, kataku sekali lagi. Kini cairan itu meleleh, meninggalkan jejak basah di pipiku.
Aku terduduk, tertunduk. Beberapa tetes cairan itu jatuh ke lantai, membentuk lingkaran-lingkaran kecil di sana. Aku mendongak, menarik napas dalam-dalam. Berharap dengan begitu semua cairan ini berhenti keluar dari mataku. Kututup mataku perlahan, bersandar pada dinding. Gagal. Cairan itu justru menambah kecepatan alirannya.
Kupeluk lututku erat-erat, membenamkan wajahku di sana. Aku menyerah dan menangis sejadi-jadinya. Semua kenanganku dengan lelaki itu muncul ke permukaan. Ketika kami pertama kali bertemu. Saat kami jatuh cinta. Momen-momen kebahagiaan kami. Aku tergugu. Mengingat semua itu dan menyadari bahwa itu hanya masa lalu.
Andai saja dia tidak menerima tawaran pekerjaan itu. Andai saja dia tidak pindah ke kota itu. Andai saja dia tidak bertemu wanita itu. Andai saja wanita itu tidak jatuh cinta padanya. Andai saja ia tidak jatuh cinta pada wanita itu. Andai saja mereka tidak saling dijodohkan. Andai saja dia tidak perlu menikahi wanita itu bulan depan. Andai saja… Aku hanya bisa berandai-andai. Lelakiku kini telah menjadi lelakinya.
Entah berapa lama aku menangisinya. Kuputuskan untuk bangkit. Mengumpulkan serpihan hati, mencoba menyatukannya kembali. Masih ada kehidupan yang harus kujalani. Kehidupan tanpa lelakiku.
***
Hari bahagiaku tiba. Seperti layaknya pengantin pada umumnya, aku pun demam panggung. Apa gaun yang kukenakan sudah melekat sempurna di tubuhku? Apa semua kancingnya terkait? Bagaimana bila nanti ada kancing yang terlepas? Apa ada yang salah dengan tatanan rambutku? Apa ada rambutku yang mencuat tak karuan?
Bagaimana bila nanti aku terjatuh saat melangkah ke altar? Aku tak pernah mengenakan sepatu dengan tumit setinggi ini. Apa tata riasku belepotan? Lipstiknya tidak terlalu tebal, kan? Bagaimana dengan cincinnya? Tidak hilang, kan? Buket bungaku tidak cacat, kan? Bagaimana dengan kue pengantinnya?
“Tenang. Kau akan merusak mahakaryaku jika kau terus mondar-mandir seperti ini.” Laras mencengkram lembut bahuku. Beruntung memiliki sahabat yang bekerja di bidang wedding organizer seperti dia.
“Coba lihat,” Laras memutar tubuhku menghadap cermin. Di sana terpantul bayangan wanita bergaun putih dengan gaya ballgown. Rambut hitamnya tergulung anggun dengan beberapa aksen kepang beserta bunga-bunga kecil di sela-selanya. Veil sebahu turut melengkapi pesonanya. Gaun tanpa lengan ini begitu sederhana namun terlihat pas di tubuhnya dengan pita besar di bagian perut. Andai saja bayangan itu mengenakan sepatu kaca, mungkin Cinderella akan kalah cantik dengannya.
“Hana, kau cantik sekali.” Bisik Laras. Aku hanya tersenyum. Bunyi ketukan di pintu membuat kami menoleh.
“Sudah siap?” Tanya lelaki paruh baya itu. Aku mengangguk. Perjalanan menuju altar pun dimulai.
Lega rasanya telah melewati bagian sakral dari rentetan acara ini. Aku melirik jemariku. Jari manisku tak lagi polos. Cincin emas dengan berlian berbentuk belah ketupat di tengahnya telah melingkar manis di sana. Aku tersenyum, miris.
Tepat di hadapanku, duduk lelaki itu. Lelaki yang seharusnya menemaniku di pelaminan ini. Lelaki yang seharusnya mengikat janji suci denganku. Lelaki yang seharusnya menyematkan cincin ini di jemariku. Tentu ia tak datang sendiri. Di sampingnya, duduk wanita itu. Wanita yang mencuri hatinya. Wanita yang merebut posisiku. Wanita yang menghalangi hari bahagiaku.
Tenang. Aku harus tenang. Topeng bahagia ini harus tetap terpasang di wajahku walau tanganku gemetar menahan emosi yang mulai bergemuruh dalam dada. Aku pun beranjak menuju mereka. Tak lupa kubawakan sepotong kue pengantinku. Dengan senyum termanis, kusajikan cheesecake itu. Mereka menerimanya dengan senang hati. Tak lupa memberiku ucapan selamat yang kutahu itu hanya basa basi.
Aku menatap mereka iri. Saling menyuapi satu sama lain dengan mesra. Kudengar sedikit obrolan mereka tentang jabang bayi yang tengah dikandung si wanita. Lelaki itu mengelus pelan perut istrinya. Tatapannya penuh cinta. Tatapan yang dulu pernah ditujukan untukku. Hanya untukku.
“Ngomong-ngomong, aku belum memberi kalian hadiah pernikahan.”
“Tidak perlu repot-repot.” Tolakmu halus.
“Jangan begitu. Tidak baik menolak rejeki. Bagaimana kalau hadiahnya kuberikan sekarang?” aku pun mendekati wanita itu. “Kuharap kau senang dengan hadiah ini.”
Tanganku dengan cepat meraih pisau yang ada di atas hidangan steak yang baru dimakan setengahnya itu. Dengan cepat membenamkannya ke dalam perut wanita itu. Tusukan pertama, membuat beberapa orang di sekitar kami terkejut. Dapat kulihat mata wanita itu terbelalak. Tusukan kedua, band pengiring berhenti memainkan instrumennya. Kini semua mata tertuju padaku dan apa yang kulakukan. Tusukan ketiga dan seterusnya, semua kulakukan dengan cepat seolah-olah aku sudah melatih ini berkali-kali.
Darah wanita itu muncrat ke mana-mana. Tercampur dalam wine, menjadi saus tambahan pada steak, sebagian tertoreh di taplak meja, beberapa terpercik di wajah tamu undangan di dekatku. Bahkan membentuk pola polkadot abstrak di gaunku. Tangan wanita itu memegangi perutnya, mencoba menutupi lubang yang kubuat. Ia berteriak histeris, bagaikan nyanyian sumbang di telingaku. Lalu ia berhenti bergerak.
Begitu ia tergeletak di lantai, darahnya menggenang membentuk kolam merah kecil di kakiku. Aku tertawa dalam hati. Ternyata ia tak begitu cantik. Lihat saja wajah pucatnya dengan mata melotot! Tidak ada yang menyukai wanita dengan penampilan seperti itu.
Lelaki itu terduduk lesu. Kejadian di depan matanya begitu cepat. Membuatnya terkejut dan tak bisa berkutik. Jika ia mau, ia bisa saja menghentikanku tapi sepertinya ia menikmati pertunjukanku. Tangannya bergerak pelan menyentuh wajah istrinya. Dipeluknya mayat bersimbah darah itu, seolah-olah dengan begitu bisa menghidupkan istrinya. Berkali-kali ia menyebut nama istrinya, berharap yang disebut namanya dapat menjawab panggilan itu.
Badannya mulai bergetar menahan tangis. Pelukannya semakin erat. Ia bahkan menggoyang-goyangkan raga tanpa nyawa itu dengan frustasi. Ia juga tak segan mengecup mayat itu. Di kening, pipi, hidung, bibir. Seolah dengan melakukannya dapat membuat wanita itu bangkit dari kematian.
“Apa yang kau lakukan? Jasmu jadi kotor semua.” Ucapku sambil menarik mayat wanita itu menjauh darinya. Tubuh kosong itu berguling begitu saja di tengah genangan anyir, tertelungkup di sana. Menjijikan sekali wanita itu!
“Kau…”
“Hah? Kau mengatakan sesuatu? Kau harus mengatakannya lebih keras.” Aku tak bisa mendengar suaranya yang begitu lirih di antara teriakan histeris para hadirin. Kuperhatikan sekilas, beberapa dari mereka berlarian keluar tempat pesta. Beberapa orang membekap mulutnya, tak percaya dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, entah apa. Yang punya nyali, berani mendekat dan mengambil gambar dengan ponsel mereka. Samar-samar dapat kudengar beberapa orang menelepon polisi dan ambulans.
“Apa yang sudah kau lakukan?” jeritannya spontan membuat semua terdiam. Aku pun tak luput terkejut. Dia seperti bukan lelakiku. Lelakiku selalu bertutur lembut, tak peduli sepelik apa masalah yang dihadapi. Bukannya berteriak-teriak histeris seperti ini. Lelakiku matanya teduh, penuh kelembutan. Tidak seperti matanya yang melotot penuh amarah, fokus pada milikku. Lelakiku selalu berusaha tegar. Bukannya menunjukan air mata kelemahan seperti ini.
“Bagaimana bisa kau tega melakukan ini padaku? Dia istriku dan dia sedang mengandung!”
 Aku hanya menggeleng lemah. “Lihat apa yang sudah diperbuat wanita ini padamu.” Aku mendekati mayat penyihir itu. Menginjak-injaknya sambil menatap lelakiku. “Ia telah mengubahmu. Ke mana lelakiku?” Lalu aku menusukan heel-ku ke dalam mata sundal itu. Lelaki di hadapanku makin histeris.
“Apa kau sudah gila?” ia berseru padaku. “Hubungan kita sudah berakhir dan kau harus bisa menerima itu. Mungkin kau marah padanya karena masalah ini tapi anak dalam kandungannya tak punya dosa apapun. Tega sekali kau!”
Ah, dia berisik sekali. Kuarahkan pisau tepat di jantungnya. Cepat dan langsung menyerang organ vital. Ekspresi wajahnya sungguh mengerikan. Kupeluk erat tubuhnya, membuat mata pisauku menancap lebih dalam. Kukecup pipinya sambil berbisik lirih, “Aku mencintaimu.”
Kuputar pisauku. Hanya untuk memastikan benda itu benar-benar merobek jantungnya. Mungkin sakitnya tak seberapa tapi paling tidak dia tahu rasanya. Rasa sakit yang kualami ketika dia memilih wanita lain. Kucabut pisau itu, membuat darahnya menyembur wajahku. Menambah pola polkadot abstrak di bagian atas gaunku. Lalu kubiarkan mayatnya menumbuk tanah, tergeletak bersama wanita itu.
”Kini hubungan kita benar-benar berakhir.”
“Angkat tangan! Jatuhkan pisau itu!” kulakukan perintah polisi itu. Suara pisau berdenting menyentuh tanah. Borgol menghiasi pergelangan tanganku. Pesta telah berakhir.




Penulis adalah mahasiswi jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang



Penulis: Luthfie Trias Satya Gayatri​

Titik Jenuh 4

Ilustrasi oleh Fotografer

Tentang asap dan sedikit udara
Ada helaian nafas dari burung pagi yang sesak,
Sudah waktunya bernyanyi, tapi enggan bernyanyi
Enggan keluar mencari sebiji padi karena udara menyakiti

Namun bersendekap di dalam sarang sungguh tak nyaman rasanya
Rasa panas dan aroma ranting terbakar menyelinap pada paruh hidung peseknya
Kemudihan menjalar pada buntut dan sekujur tubuh

Memekik tak dapat memekik
Nampak api bagi seekor ular phyton yang siap melumat tubuhnya
Menjalar-jalar
Mendesah-desah dengan bara
Anaknya berbilang tanpa kata dengan tangisan
Burung mengutuk pemusnah
Yang mengganti ilalang dengan beton beton
Yang mengganti sungai dengan sampah
Yang menelanjangi bumi dengan napsunya

Izinkan burung berbicara pada sang takdir
Sebagai perwakilan makhluk untuk mengadili
Di akhirat nanti petakamu terjadi
Pastilah terjadi!
Burung akan membakarmu di dalam sangkar jahanam….





Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Universitas Negeri Malang





Penulis: Ferry Yuli Rakhmanto

Titik Jenuh 2

Ilustrasi oleh Belantara Sekar

Barisan ngilu nampak berkumpul di serambi otak
Sekadar menawarkan kopi dan berbicara kepahitan
Memanggil camar camar haus daging,
kerap kali berkeliling di atas kepala
Sudah tahukah apa yang mereka incar?
Keputusan kosong yang melepas daging jemuh seperti balon dengan karbitnya
Melayang, di cucuk camar itu dan meleltus
Berhamburan dalam penat dan kebingungan

Hardik-hardiklah otak muda pada jiwa pembelot
Yang memilih tidur di ranjang empuk
daripada menahan kebebasan di ruangan tekstil pengap penuh mayat hidup
mana yang lebih pantas?
Biarlah omelan ibu atau pengawas pabrik yang tentukan

Masih dengan jiwa?
Rentahnya itu masih muda, balitapun sudah berjiwa tua
Dewasa takkan bisa mengambil banyak dari kehidupan
Karena jiwanya sudah mati oleh rutinitas dan nafsu
Ketika umurnya 17 tahun tampangnya rupawan dan sedap dipandang, tapi jiwanya?
Seperti kecepatan cahaya,melesat menembus kekosongan 40 tahun tuanya.
Jika ada yang masih menggunakan jiwa di masa mudanya,

maka lebih baik yang diajak diskusi adalah manula.





Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Universitas Negeri Malang




Penulis:Ferry Yuli Rakhmanto

Bukan Apa-apa, Tapi...

Ilustrasi oleh Fantasiousid

Awal sebuah rasa manis akan tetap manis, jika kita pintar mengolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita ini berawal dari seorang cewek yang bernama Rani, dan seorang cowok yang bernama Aldi. Mereka sudah menjalin status pacaran mungkin sekitar dua tahun lebih. Mereka sangat cocok, dengan cewek yang egois dan si cowok yang sebaliknya.  Hal itulah yang membuat mereka bisa bertahan lama, saling melengkapi. Hingga teman-teman mereka dibuatnya iri dengan hubungan mereka yang jarang sekali berantem, (iya iyalah kan cowoknya yang selalu ngalah). Coba saja kalau keduanya sama-sama tidak mau mengalah, mungkin tidak sampai dua tahun sudah putus hubungan.
***
Langit mulai menampakkan rasa sedihnya dengan warna kelabu. Rani menatap sang langit sejenak lalu merogoh tasnya. Setelah hampir mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tasnya, akhirnya ia mendapatkan benda yang diinginkan. Rani mendapati telepon genggamnya, dan segera menghubungi Aldi. Ia ingin Aldi segera menjemputnya di sekolah, karena sepertinya hujan akan segera turun.
Rani dan Aldi berbeda sekolah dengan jarak sekolah mereka yang bisa dibilang cukup jauh dan membutuhkan waktu lama. Hampir setengah jam Rani menunggu, tetapi sang pujaan hatinya tidak kunjung datang sampai halaman sekolah berangsur-angsur sepi. Hingga satu jam berlalu, Aldi tetap tak tampak batang hidungnya, Rani kesal bukan main.
Rani menunggu di gerbang sekolah dengan Mirna, teman sebangkunya yang senasib dengannya sama-sama menunggu jemputan. Untung Rani ada temannya, jika tidak, bisa-bisa Aldi akan mendapati omelannya sepanjang perjalanan pulang. Tak berapa lama Aldi sampai di sekolahnya Rani.
“Maaf telat, Sayang.” Ujar Aldi menyesal setengah takut terkena omelan pacarnya.
Rani hanya tersenyum kecut dan mengalihkan tatapannya pada Mirna, memberikan gadis itu senyum ramah tanda ia akan pulang duluan bersama Aldi. Mirna hanya membalasnya singkat. Sepanjang perjalanan pulang, Aldi mencoba untuk mulai pembicaraan. Ia tahu Rani sedang kesal padanya.
“Maaf ya, Sayang. Tadi masih ada pengumuman, maklum udah kelas 12.” Kata Aldi berusaha memberikan penjelasan.
“Iya, nggak apa-apa, kok.” Rani menjawabnya ketus, mimik wajahnya masih ia pasang sedatar mungkin.
“Kita lewat jalan dalam saja, ya. Nanti takutnya macet.” Aldi masih berusaha untuk tidak membuat gadisnya marah lagi.
Rani masih bertahan dengan keterdiamannya, sementara itu hujan turun cukup deras. Mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Tidak ada rumah penduduk hanya pohon dan sawah yang ada di sekitar mereka. Di situ Rani mulai mau berbicara dengan Aldi.
“Agak sinian, Al, kena hujan nanti kamu,” tutur Rani setengah khawatir.
Aldi merasa senang karena di balik diamnya Rani sedari tadi, ternyata gadis itu masih bisa mengkhawatirkannya.
“Iya, Sayang.” Senyum Aldi mengembang, lantas ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Rani.
“Nggak usah.” Reflek Rani menolak jaket yang dipakaikan oleh Aldi.
“Kenapa? Kamu pakai saja jaketnya, aku nggak apa-apa,” Aldi kembali memakaikan jaketnya Rani.
“Makasih,” Rani akhirnya mau memakai jaket Aldi, gadis itu tersnyum.
“Maafin aku tadi jemput kamunya telat,” ujar Aldi merasa bersalah.
“Sebenernya aku nggak marah kok, cuma tadi lagi ada konfliksama temen sekelasku. Eh, yang kena marahnya kamu, maafin aku ya, Sayang.” Jelas Rani panjang lebar diakhiri dengan senyumnya yang melengkung cantik.
“Iya, Sayang, nggak apa-apa kok, lihat kamu senyum saja aku udah seneng kok,” ujar Aldi seraya mengecup kening Rani ringan.
Sudah satu jam lebih mereka berteduh, tapi sayangnya hujan tak kunjung reda. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerobos hujan tanpa sebuah jas hujan. Sampai di rumah Rani, Aldi enggan untuk  mampir, ia beralasan kalau baju yang ia pakai basah dan dia merasa sungkan.
Aldi pun memilih segera pulang. Sesampainya di rumah, mandi adalah tujuan pertamanya, setelahnya ia mencoba untuk menyalakan ponselnya, tapi benda itu tidak merespon apa pun. layarnya masih gelap, mungkin karena efek kehujanan tadi. Aldi bingung, tapi di balik kebingungannya ia tak sedikitpun menyalahkan Rani. Ia tetap memberi kabar kepada Rani dengan menggunakan ponsel milik ibunya. Tanpa memberitahu kalau ponsel miliknya sedang rusak.
***
Entah sejak kapan Rani dekat dengan seorang teman cowoknya, sebut saja namanya Rangga. Hampir setiap saat ia berkomunikasi dengannya, entah lewat layanan chatting di sosial media maupun melalui telepon hanya untuk mendengarkan suaranya. Tanpa sadar hubungannya dengan Aldi merenggang, padahal selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada pertengakaran yang berarti.
Berselang kemudian, Rani memutuskan hubungannya dengan Aldi. Dia lebih memilih jalan bersama Rangga yang memiliki predikat playboy daripada Aldi yang telah baik kepadanya. Namun, sepertinya Rani salah memprediksi, ia lupa bahwa Rangga adalah pemain yang ulung. Dua minggu menjalin hubungan dengan Rangga, mereka pun putu. Alasan klasik yang seringkali dipakai, ia tidak menyangka kalau Rangga tidak sebaik dugaannya.
Satu tahun berlalu dengan singkat, selama itulah Rani dan Aldi tak berkomunikasi satu sama lain. Hingga ketika kabar ayah Rani masuk rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah saling mengenal, maka saat kabar itu sampai pada orang tua Aldi, mereka datang untuk menjenguk. Rani hanya melempar senyum saat bertatap muka dengan Aldi setelah sekian lama. Meskipun kedua orang tua mereka membahas tentang hubungan mereka, tapi tampaknya keduanya masih sulit untuk memulai pembicaraan.
Sesekali orang tua Aldi masih datang menjenguk, kadang hanya Aldi sekadar membawa makanan atau menemani Rani menjaga ayahnya. Di malam hari Rani duduk sendirian menatap langit di teras ruangan rumah sakit, Aldi yang baru saja datang menghampiri gadis itu dan mencoba menyapanya.
“Hai, bagaimana kuliah kamu, Ran?” tanya Aldi sembari memberikan senyum sekilasnya pada Rani.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kerjaannya?” jujur Rani kaget disapa oleh Aldi, ia hanya tersenyum dan membalas sekenanya.
“Alhamdulillah, Ran. Kita lama nggak ketemu, ya,”
Rani hanya mengangguk mengiyakan ucapan Aldi. Sayang, percakapan mereka tak berlangsung lama, Rani dipanggil oleh ibunya untuk menjaga ayahnya, sementara ibunya pergi untuk makan malam dengan orang tua Aldi.
Di dalam kamar inap ayahnya, Rani merenung tentang sikap Aldi yang masih saja baik kepadanya dan keluarganya. Padahal dirinya telah mengkhianatinya. Ada niat ingin memulai hubungan yang baik dengan Aldi, tapi Rani masih sering bimbang dan takut kalau-kalau dirinya kembali membuat Aldi sakit hati. Meski ia tahu bahwa Aldi tidak mempermasalahkannya. Ia masih takut.




Penulis adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang




Penulis: Desi Ayu Suryadini

Senin, 15 Februari 2016

Ketentuan Mengirim Karya ke Ayo Berkarya

Salam Literasi!

Bagi teman-teman yang ingin melihat karyanya dimuat di Ayo Berkarya, tidak ada salahnya untuk menyimak ketentuan-ketentuan dibawah ini.

Ketentuan:

  1. Karya yang dikirimkan adalah karya orisinil, buatan sendiri, bukan hasil plagiasi;
  2. Tidak mengandung unsur SARA, Pornografi, dan muatan kontroversi lainnya;
  3. Usahakan karya masih belum pernah dimuat di media manapun;
  4. Untuk karya cerpen maksimal 4 halaman A4, font Times New Roman, ukuran 12pt, spasi 1,5pt;
  5. Untuk karya puisi maksimal mengirim 2 judul;
  6. Pengiriman karya berupa Attach file/dalam file Ms. Word, bukan di badan email;
  7. Buatlah karya sesuai tema yang ditentukan di setiap edisinya;
  8. Kirim karya ke e-mail redaksi berkaryaa@gmail.com, subjek: [naskah cerpen/puisi edisi ke-...]; dan
  9. Jangan ragu untuk kualitas karya, hanya perlu menulislah dan banyak membaca karya lain.

Kami mewadahi karya yang ingin dibaca banyak orang, tanpa harus malu dan berkecil hati. Mulailah menulis, rasakan sensasi menuangkan ide dalam tulisan. Dan berkembanglah dengan kritikan, niscaya kamu akan jauh lebih bermakna.

Happy writing!!

Jumat, 12 Februari 2016

[Download] Ayo Berkarya PDF

Salam Literasi, untuk kita semua para penikmat sastra.

          Kami, segenap tim Ayo Berkarya mengucapkan syukur dan terima kasih pada Tuhan YME dan segenap pihak yang terlibat dalam setiap penerbitan media kami yang bertajuk Ayo Berkarya. Pada bulan Februari yang penuh cinta ini, kami meluncurkan blog Ayo Berkarya untuk karya-karya yang terpilih.
          Selanjutnya kami akan memberikan kemudahan bagi kalian para pembaca setia Ayo Berkarya yang sempat ketinggalan edisi-edisi kami yang terdahulu, untuk mengoleksi Ayo Berkarya dari edisi pertama hingga yang paling terbaru.

[Download] Ayo Berkarya Edisi 01

Ayo Berkarya Edisi 01


Ayo Berkarya Edisi 02 | Ayo Berkarya Edisi 03 | Ayo Berkarya Edisi 04 |
Ayo Berkarya Edisi 05 | Ayo Berkarya Edisi 06 | Ayo Berkarya Edisi 07 |
Ayo Berkarya Edisi 08 | Ayo Berkarya Edisi 09 | Ayo Berkarya Edisi 10 |
 

Kamis, 11 Februari 2016

Pada Diri

Ilustrasi oleh Herdiana Hakim

Masih berjarak yang terlampau lupa
Jam dinding tetap melangkah dingin
Seperti detik-detik dalam lamunan
Suaramu tak lagi lantang, ketika
deru deram ingar bingar
terlihat kikuk saat berjalan
Belum sempat lampu menerangi

Terburu kau dihujam segala rupa
Badan masih saja terasa letih
meski kau rebahkan sepanjang lelah



Penulis: Fiqri Alif

Angka Ketiga Belas

Ilustrasi oleh Thirteen

Sebentar lagi akan kutemui waktu
Ia yang berkutat pada perputaran dua puluh empat jam
dengan angka yang hanya dipatok hingga angka dua belas
Mungkin perlu kusisipkan angka ketiga belas agar ia teramat manis
Seperti sedia kala kau temuiku pada waktu
Kau yang manis bersandar pada tawa kecil
Kau yang teramat lugu bersandar pada tubuh mungilmu
atau kau yang cakap dengan celotehmu

Kupikir harus kusisipkan angka ketiga belas
Agar raut wajahmu tercatat jelas pada waktu
Hingga ia akan terus terkenang pada perputarannya
Sampai pada dalamnya waktu ia akan tetap tercatat
dan tetap manis semanis waktu yang melaluimu



Penulis: Achmad Fathoni

Bicara Waktu


Ilustrasi oleh kabarnesia

Sedangkan waktu tak kunjung mendarat
Ia asik bersembunyi di dinginnya bakau yang mulai mengering
Aku sempat menghisapnya sekali
Saat itu ia lekas pergi tanpa menyentuh dasar paru-paruku
Tak sehelaipun, hanya lewat dan setelahnya ia hilang
Terbawa angin yang mulai ragu
Apakah waktu dapat dijamahinya

Sedangkan waktu tak kunjung mendarat
Selepas ia hilang entah ke bagian bumi yang mana
Seketika ia hadir kembali
Membawa kabar yang tak layak kudengar
Ia bercerita tentang waktu yang mempertemukanku pada perpisahan
Selepas itu badai datang menghapus waktu
Sedangkan waktu, mungkin ia teramat manis jika dibicarakan
Apalagi perpisahan, perkara waktu yang tak dapat dikatakan





Penulis: Achmad Fathoni

Katiga Mudangkara1)


Akan ku mulai kisah ini dengan sedikit harap-harap cemas dan sesajen lengkap kepada arwah para leluhur yang mengetahui dengan pasti bagaimana jalan cerita ini terjadi. Tak luput juga telah ku siapkan dada ayam dengan tulang-tulang terbaik dan daging-daging tergemuk agar mulut-mulut yang hendak mencemooh jalan cerita ini tersumpal ayam bakar dan tak sanggup lagi berkoar-koar. Engkau yang merasa paham dengan apa yang tengah dikisahkan, mohon diamlah. Beri kesempatan kepada kebenaran untuk unjuk gigi dihadapan semua orang dengan pongah; layaknya seorang pahlawan menang perang yang meminum anggur dari cawan tengkorak lawan. Pahamilah dengan sungguh-sungguh, bahwa ini sekali-kali bukanlah sebuah niatan buruk.
***
            Disebabkan karena aku tidak rela wilayah kekuasaannya seluas nusantara padahal ia hanya perempuan biasa yang mendapatkan tahta dari warisan bapaknya, ku putuskan untuk berontak dan merongrong kerajaannya. Aku –dengan caraku sendiri, ingin mengajarinya bagaimana harusnya menjadi seorang ratu dari kerajaan sebesar Majapahit yang gemah ripah loh jinawi2). Agar ia tak menjadi ratu yang hanya bisa mengacungkan jemari lentiknya ketika menginginkan sesuatu. Agar ia merasakan bagaimana rasanya jadi aku; jatuh bangun, terluka, terperosok, terjerembab, tersakiti dengan taruhan nyawa demi mendapatkan posisi sebagai pemimpin di suatu wilayah kecil yang hanya sepersekian persen dari keseluruhan wilayah Majapahit.
            Nyatanya ia masih gagap juga menerima pembelajaran dariku, sekalipun sudah ku uji sekian kali dengan berbagai pemberontakan, mulai dari skala kecil hingga sangat besar. Mulai dari mengorbankan nyawa prajurit-prajurit pilihan hingga membuat ribuan gadis-gadis perawan di Majapahit kehilangan calon suaminya. Semuanya tak lantas membuat Kencana Wungu berpikir untuk mundur dan mengalah. Egoisnya –yang diturunkan oleh sang ayah, justru membuatnya menanggapi gempuranku dengan lebih dahsyat dari yang bisa ku bayangkan sebelumnya. Kelak, bila aku telah berpulang dan kepalaku telah terpenggal, biar ku ceritakan kepada semua orang bahwa aku bangga bisa membuat ratu dari kerajaan sebesar Majapahit kebakaran jenggot dan kehilangan wibawanya.
Sudah ku duga jauh-jauh hari sebelumnya, akan ada suatu malam yang agak asin dengan sisa-sisa semburat candikala berwarna merah kekuningan dimana pada hari itu tampillah jajaran Dharmaputra Winehsuka3) di tengah alun-alun kerajaan yang sarat akan keramaian. Seseorang diantara mereka membuka gulungan sebuah perkamen dari daun lontar dan kemudian membacakannya dengan sangat lantang. Aku masih ingat betul, kala itu seorang mata-mata melaporkan padaku bahwa namaku disebut sebanyak dua kali dalam pengumuman itu. Sayembara yang membuat telingaku gatal dan merah-merah hampir seminggu lamanya itu berbunyi, “Barang siapa berhasil menumpas Kebo Marcuet dan menyerahkan penggalan kepala pemberontak Majapahit itu, bila perempuan akan diangkat sebagai saudara Ratu Ayu dan bila laki-laki akan dijadikan suami serta mendampingi sang ratu memimpin Majapahit. Segerakanlah mencari Kebo Marcuet dengan segala upaya, maka niscaya keberuntungan akan menjadi milikmu.”
            Tak lama setelah sayembara itu santer terdengar, dengan sangat terkutuk datanglah seorang lelaki berwajah tampan yang sempat ku kira adalah ksatria kahyangan –mengetuk pintu kerajaan dengan tangan mengepal dan tekad yang bulatnya melebihi sempurnanya sudut-sudut bulan pada saat purnama.
            “Mau apa kau kemari? Tempatmu di kahyangan bersama dengan para bidadari yang rupawannya sepadan denganmu, bukan disini. Relakah kau bila wajah tampanmu berubah bopeng-bopeng, kakimu pincang, tanganmu tak utuh dan dadamu yang bidang tegap itu ku bungkukkan?”
            Jagat dewa batara jadi saksi, sebuah nama telah menjadi korban kelicikan Dewi Suhita4) yang pertama kali.
***
Disebabkan karena aku seorang ksatria dengan kesaktian mandraguna yang ditakuti kekejamannya oleh seluruh Jawadwipa, maka sudah sepantasnya aku merasa patut menyandingkan diri dengannya. Ratu itu –siapapun tahu namanya, sebab ialah perempuan paling anggun di seluruh jagat raya. Sebab namanya berulang kali disebut oleh adipati-adipati dari kadipaten kecil yang tidak punya nyali untuk mendekatinya sekalipun mereka jatuh cinta dengan amat sangat; sama sepertiku. Sebab senandung untuknya dikumandangkan oleh semesta pada sunyinya malam ketika ia hendak berangkat ke peraduannya yang terbuat dari beludu berwarna emas. Sebab pada setiap jangkah langkah kaki yang ia tapakkan di hadapan kaum lelaki telah membangkitkan gairah kejantanan kami untuk bersanding dengannya. Singkatnya, ia adalah manifestasi utuh dari yang jagat raya sebut sebagai “sempurna”.
            Sayembaranya yang menggoda syaraf-syaraf panca indraku itu akhirnya membuatku melangkah dengan tegap memasuki wilayah kerajaan Majapahit dengan membawa sepenggal kepala yang sudah terpisah dari badannya. Dengan mata berbinar dan jantung yang tiada henti berdegup kencang sebab sebentar lagi aku akan naik tahta menjadi raja Majapahit, ku serahkan penggalan kepala berbungkus selembar batik itu kepada kanjeng Suhita. Kalau aku tak salah ingat, saat itu ia mengerling padaku dengan raut wajah jijiknya seraya berkata, “Siapakah engkau gerangan yang buruk rupa namun sakti mandraguna sehingga mampu menumpas Kebo Marcuet?”
            Semesta, sayang sekali ia tidak berkesempatan melihat ketampananku sebelum berperang melawan Kebo Marcuet. Bukan salah takdir bila akhirnya ia memutuskan untuk tidak menepati janjinya seperti yang tertera pada pengumuman dan sayembara demi dilihatnya wajahku yang penuh gores luka sana-sini dan bolong di beberapa bagiannya. Diberinya aku hadiah pertama berupa kadipaten Blambangan, namun diingkarinya janji untuk bersuamikan aku yang telah berhasil mempersembahkan kepala Kebo Marcuet kehadapannya.
            Rupanya ada hal lain yang luput tidak diajarkan oleh Kebo Marcuet selama masa pemberontakannya kepada Ratu Ayu Kencana Wungu, tentang bagaimana harus menghargai kerja keras orang lain yang telah mengorbankan segalanya demi memenuhi panggilan sebagai ksatria; tentang bagaimana menjaga kehormatan dan wibawa dengan tidak menjilat ludah sendiri, mengingkari janji dengan teramat sengaja. Barangkali itulah pelajaran yang harus ku ajarkan sendiri padanya –pada ratuku yang telah membuatku jatuh hati dengan sangat telaknya.
            Ku ajarkan padanya segala hal yang baik-baik, sekalipun dengan cara yang teramat buruk. Ku ajari ia cara memperjuangkan cinta kepada seseorang melalui setiap tebasan pusaka yang menggorok leher setiap prajurit Majapahit yang berusaha menghalangiku bertemu dengannya. Ku ajari ia cara menepati janji melalui satu demi satu pemberontakan yang ku rencanakan. Dan segala pembelajaran yang hendak ku sampaikan menjadi percuma dan tiada guna tatkala ia lebih memilih bersembunyi di balik sayembara keduanya yang berbunyi, “Minakjingga telah membelot dan melakukan pemberontakan besar-besaran kepada Majapahit. Maka dengan ini aku sampaikan bahwa siapapun yang berhasil mengalahkannya dan membawakan padaku penggalan kepala adipati Blambangan, akan ku jadikan suami sekaligus raja di Majapahit.”
Seorang pemuda, yang tampannya setara dengan ketampananku dahulu, melakukan apa yang dulu ku lakukan terhadap Kebo Marcuet. Tidak mengapa, barangkali ia benar-benar belum tahu seperti apa perempuan yang bisanya hanya bersembunyi dibalik ketidakberdayaan dengan mengadakan perulangan sayembara yang sama bunyinya.
            Sekali lagi, dewa batara akan menulis ini sebagai wujud kelicikan Dewi Suhita yang kedua kali.
***
Disebabkan karena aku hanya seorang pengasuh kuda di kepatihan yang jatuh hati kepada gadis bungsu anak dari seorang maha patih terkemuka di Majapahit, maka tidak sepantasnya aku merasa patut menyandingkan diri dengannya. Telah ku cukupkan dalam hatiku nama Dewi Anjasmara sebagai satu-satunya yang ingin ku rengkuh dalam setiap malam yang selama ini selalu ku tenun sendirian. Tak sedetik pun sempat terlintas dalam pikiranku untuk menduakan cinta manakala pada suatu sore yang pucat dan agak mendung itu Patih Logender berjalan dengan penuh wibawa menuju ke alun-alun kerajaan untuk membacakan sebuah pengumuman penting dari sang ratu. Di belakangnya, nampak seorang perempuan dengan kecantikan dan keanggunan luar biasa yang dengan meliriknya sekilas saja, ia telah mampu menyihir lelaki manapun agar tak mengedipkan mata ketika melihatnya.
Lalu, menjadi salah siapa ketika di kemudian hari dewata agung memberiku wajah yang begitu tampan dengan segudang kekuatan yang pada akhirnya berhasil membawaku ke hadapan sang ratu dengan penggalan kepala Minakjingga sebagai wujud baktiku kepada Majapahit? Nyatanya, ketampananku bukan hanya mampu membuat kedua istri Minakjingga takluk sehingga mau memberitahukan kelemahan suaminya padaku, tetapi juga mampu membuat sang ratu tak henti memandangku. Pada akhirnya, aku tak tahan juga mendiamkan Kencana Wungu yang tiada henti menagih janji kapan aku akan menikahinya di hadapan seluruh rakyat Majapahit.
            Kali ini apa-apa yang telah dibelajarkan oleh kedua pemberontak terhebat sepanjang zaman Majapahit –Kebo Marcuet dan Minakjingga– mulai nampak hasilnya. Kencana Wungu tak lagi mengingkari janji, disebabkan karena aku pulang dengan tubuh yang utuh dan ketampanan yang tak berkurang sedikitpun. Kami pun menikah dan dijadikannya aku Raja Brawijaya II yang tidak hanya bertahta di singgasana Majapahit melainkan juga di hatinya.
            Barangkali telah menjadi garis tanganku bila akulah yang ditugaskan untuk menyampaikan pembelajaran terakhir sekaligus paling penting kepada istriku, Kencana Wungu yang anggun nan cantik itu. Bahwa segala hal yang dimulai dari sebuah perlombaan hanya akan melahirkan seorang pemenang, bukannya seorang pecinta sejati. Maka aku tak segan-segan menolak titahnya manakala pada suatu malam yang hening ketika nafasnya terasa dekat sekali dengan leherku, ia berkata manja, “Aku ingin jadi satu-satunya di hidupmu, Kanda. Tinggalkanlah Anjasmara.”
            Denyut nadiku tersentak bagai tersengat aliran listrik, gendang telingaku terasa gatal dan hidungku kembang kempis kemerahan menahan marah yang merah. “Apa-apaan engkau ini?” bentakku. Wajah ayunya seketika berubah menjadi sayup, menandakan bahwa ia tak suka titahnya dibantah.
            “Sudah seminggu engkau menduduki tahta Majapahit dan menyandingku dengan begitu gagahnya. Tak ada yang tak hormat padamu disebabkan karena apa-apa yang telah ku bagi secara sukarela: mahkota, harta, kedudukan, kekuasaan, dan segala kesempurnaan. Ku kira kepala Minakjingga saja tak cukup sebagai timbal baliknya”, ungkap istriku mencurahkan isi hatinya.
            Sehabis berkata demikian, Kencana Wungu menyandarkan kepalanya ke dada bidangku. Kedua tangannya yang putih mulus karena setiap hari bermandikan lulur susu melingkar dengan anggun di punggungku yang tegap. Dilepaskannya mahkota kerajaan yang menyembunyikan rambut harum nan hitamnya, sehingga untaian rambutnya kini bebas membelai wajahku. Aku hanya diam seribu bahasa, mematungkan diri menjadi arca dihadapannya. Melihatku tidak menampakkan reaksi apa-apa, ia kembali bertanya, kali ini dengan nada paling sarkatis yang pernah ku dengar, “Engkau masih mencintaiku, Kanda?”
            Gelengan kepalaku sebagai jawabannya menjadi awal dari segala petaka. Langit fajar Majapahit yang merekah mekar ketika ditumbuhi sinar-sinar matahari menjadi saksi pelarianku membawa serta Anjasmara ke tempat yang paling aman dari jangkauannya. Ku bawa pergi tambatan hatiku, pemilik sejati denyut nadi dan detakan jantungku. Tak ku relakan tulang rusukku dicederai, apalagi oleh orang yang mengaku mencintaiku dengan sangat. Rasakanlah, Suhita, ini buah dari semua kelicikanmu selama engkau bersembunyi di balik mahkota kekuasaanmu.
Tetapi Suhita tidak akan bergelar Tribuwana Tungga Dewi kalau ia tak memiliki banyak cara licik untuk memenuhi maunya. Diadakannya sayembara ketiga, kali ini aku sebagai targetnya. Sayembara itu berbunyi, “Prabu kalian yang sekaligus ialah suamiku hilang akal karena telah dengan sengaja mengkhianati Majapahit dan mendustai titahku. Barang siapa yang menyerahkannya padaku dalam keadaan hidup dan mati, bila perempuan akan ku angkat sebagai penggantiku dan bila laki-laki akan ku jadikan suamiku.”
            Kali ini jagat dewa batara sudah lelah bila harus mencatat kelicikan Dewi Suhita untuk yang kesekian kalinya. Maka mereka biarkan saja segala tindakan ratu Majapahit itu semaunya.
***
Dan pada akhirnya, ia mengulangi lagi kelicikannya dengan cara yang sama. Semua yang merasa pintar seharusnya menyadari permainan bulus apa yang sedang diperankan oleh sang ratu. Yang tidak cukup pintar untuk menarik kesimpulan, sebaiknya mundur jauh dari jangkauan dan kerlingannya. Sebab bila ia tidak, ia akan menjadikanmu kepala keempat sebagai penghias dinding kamarnya. Ya, kepala keempat setelah sayembara memenggal kepala KePenulbo Marcuet dimenangkan oleh Minakjingga, kemudian kepala Minakjingga ditebas dengan gada rujak pala oleh Damarwulan dan yang terakhir kepala seseorang yang namanya tak kuasa ia sebutkan.
Ambillah ia selagi kau masih ingin. Sebelum pada akhirnya, kau pun akan mengerti seperti apa perempuan yang kepadanyalah kepalaku ingin kau persembahkan.
Sebuah kalimat diucapkan secara bersamaan oleh tiga penggal kepala yang terletak disamping tempat tidur Ratu Ayu Kencana Wungu: kepala Kebo Marcuet, kepala Minakjingga dan yang terakhir ialah penggalan kepala kesayangan sang ratu –penggalan kepala milik seorang pemuda tampan yang membuatnya tidak berkedip bila memandang, dari dulu hingga sekarang. ♦



 Keterangan:
1) bahasa Sansekerta, artinya Tiga Penggal Kepala
2) peribahasa jawa yang menggambarkan sebuah negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ruah
3) sebutan untuk jajaran penasehat kerajaan di Majapahit

4)nama lain dari Ratu Ayu Kencana Wungu


Cerpen ini Juara II Lomba Cerpen se-UM oleh HMJ Sastra Indonesia tahun 2014


Penulis: Novia Anggraini