Jumat, 19 Februari 2016

Pengantin Bergaun Polkadot Merah

Ilustrasi oleh Google

Mendadak hening. Setiap gerakan membeku tiba-tiba. Bahkan tarikan napas tak sedikit pun terdengar. Semua mata tertuju pada satu titik. Hanya bunyi napasku yang terengah-engah setelah aku selesai dengan apa yang kulakukan. Lalu tiba-tiba semua gaduh.
***
“Maaf, Hana.” Ucapmu lirih di seberang sana. Aku hanya bisa membisu. Lalu nada statis terdengar di telingaku. Ya, inilah telepon terakhirmu yang juga menandakan akhir kebersamaan kita. Tak apa, aku meyakinkan diri. Mataku mulai dipenuhi cairan bening itu. Ini bukan hal yang buruk, kataku sekali lagi. Kini cairan itu meleleh, meninggalkan jejak basah di pipiku.
Aku terduduk, tertunduk. Beberapa tetes cairan itu jatuh ke lantai, membentuk lingkaran-lingkaran kecil di sana. Aku mendongak, menarik napas dalam-dalam. Berharap dengan begitu semua cairan ini berhenti keluar dari mataku. Kututup mataku perlahan, bersandar pada dinding. Gagal. Cairan itu justru menambah kecepatan alirannya.
Kupeluk lututku erat-erat, membenamkan wajahku di sana. Aku menyerah dan menangis sejadi-jadinya. Semua kenanganku dengan lelaki itu muncul ke permukaan. Ketika kami pertama kali bertemu. Saat kami jatuh cinta. Momen-momen kebahagiaan kami. Aku tergugu. Mengingat semua itu dan menyadari bahwa itu hanya masa lalu.
Andai saja dia tidak menerima tawaran pekerjaan itu. Andai saja dia tidak pindah ke kota itu. Andai saja dia tidak bertemu wanita itu. Andai saja wanita itu tidak jatuh cinta padanya. Andai saja ia tidak jatuh cinta pada wanita itu. Andai saja mereka tidak saling dijodohkan. Andai saja dia tidak perlu menikahi wanita itu bulan depan. Andai saja… Aku hanya bisa berandai-andai. Lelakiku kini telah menjadi lelakinya.
Entah berapa lama aku menangisinya. Kuputuskan untuk bangkit. Mengumpulkan serpihan hati, mencoba menyatukannya kembali. Masih ada kehidupan yang harus kujalani. Kehidupan tanpa lelakiku.
***
Hari bahagiaku tiba. Seperti layaknya pengantin pada umumnya, aku pun demam panggung. Apa gaun yang kukenakan sudah melekat sempurna di tubuhku? Apa semua kancingnya terkait? Bagaimana bila nanti ada kancing yang terlepas? Apa ada yang salah dengan tatanan rambutku? Apa ada rambutku yang mencuat tak karuan?
Bagaimana bila nanti aku terjatuh saat melangkah ke altar? Aku tak pernah mengenakan sepatu dengan tumit setinggi ini. Apa tata riasku belepotan? Lipstiknya tidak terlalu tebal, kan? Bagaimana dengan cincinnya? Tidak hilang, kan? Buket bungaku tidak cacat, kan? Bagaimana dengan kue pengantinnya?
“Tenang. Kau akan merusak mahakaryaku jika kau terus mondar-mandir seperti ini.” Laras mencengkram lembut bahuku. Beruntung memiliki sahabat yang bekerja di bidang wedding organizer seperti dia.
“Coba lihat,” Laras memutar tubuhku menghadap cermin. Di sana terpantul bayangan wanita bergaun putih dengan gaya ballgown. Rambut hitamnya tergulung anggun dengan beberapa aksen kepang beserta bunga-bunga kecil di sela-selanya. Veil sebahu turut melengkapi pesonanya. Gaun tanpa lengan ini begitu sederhana namun terlihat pas di tubuhnya dengan pita besar di bagian perut. Andai saja bayangan itu mengenakan sepatu kaca, mungkin Cinderella akan kalah cantik dengannya.
“Hana, kau cantik sekali.” Bisik Laras. Aku hanya tersenyum. Bunyi ketukan di pintu membuat kami menoleh.
“Sudah siap?” Tanya lelaki paruh baya itu. Aku mengangguk. Perjalanan menuju altar pun dimulai.
Lega rasanya telah melewati bagian sakral dari rentetan acara ini. Aku melirik jemariku. Jari manisku tak lagi polos. Cincin emas dengan berlian berbentuk belah ketupat di tengahnya telah melingkar manis di sana. Aku tersenyum, miris.
Tepat di hadapanku, duduk lelaki itu. Lelaki yang seharusnya menemaniku di pelaminan ini. Lelaki yang seharusnya mengikat janji suci denganku. Lelaki yang seharusnya menyematkan cincin ini di jemariku. Tentu ia tak datang sendiri. Di sampingnya, duduk wanita itu. Wanita yang mencuri hatinya. Wanita yang merebut posisiku. Wanita yang menghalangi hari bahagiaku.
Tenang. Aku harus tenang. Topeng bahagia ini harus tetap terpasang di wajahku walau tanganku gemetar menahan emosi yang mulai bergemuruh dalam dada. Aku pun beranjak menuju mereka. Tak lupa kubawakan sepotong kue pengantinku. Dengan senyum termanis, kusajikan cheesecake itu. Mereka menerimanya dengan senang hati. Tak lupa memberiku ucapan selamat yang kutahu itu hanya basa basi.
Aku menatap mereka iri. Saling menyuapi satu sama lain dengan mesra. Kudengar sedikit obrolan mereka tentang jabang bayi yang tengah dikandung si wanita. Lelaki itu mengelus pelan perut istrinya. Tatapannya penuh cinta. Tatapan yang dulu pernah ditujukan untukku. Hanya untukku.
“Ngomong-ngomong, aku belum memberi kalian hadiah pernikahan.”
“Tidak perlu repot-repot.” Tolakmu halus.
“Jangan begitu. Tidak baik menolak rejeki. Bagaimana kalau hadiahnya kuberikan sekarang?” aku pun mendekati wanita itu. “Kuharap kau senang dengan hadiah ini.”
Tanganku dengan cepat meraih pisau yang ada di atas hidangan steak yang baru dimakan setengahnya itu. Dengan cepat membenamkannya ke dalam perut wanita itu. Tusukan pertama, membuat beberapa orang di sekitar kami terkejut. Dapat kulihat mata wanita itu terbelalak. Tusukan kedua, band pengiring berhenti memainkan instrumennya. Kini semua mata tertuju padaku dan apa yang kulakukan. Tusukan ketiga dan seterusnya, semua kulakukan dengan cepat seolah-olah aku sudah melatih ini berkali-kali.
Darah wanita itu muncrat ke mana-mana. Tercampur dalam wine, menjadi saus tambahan pada steak, sebagian tertoreh di taplak meja, beberapa terpercik di wajah tamu undangan di dekatku. Bahkan membentuk pola polkadot abstrak di gaunku. Tangan wanita itu memegangi perutnya, mencoba menutupi lubang yang kubuat. Ia berteriak histeris, bagaikan nyanyian sumbang di telingaku. Lalu ia berhenti bergerak.
Begitu ia tergeletak di lantai, darahnya menggenang membentuk kolam merah kecil di kakiku. Aku tertawa dalam hati. Ternyata ia tak begitu cantik. Lihat saja wajah pucatnya dengan mata melotot! Tidak ada yang menyukai wanita dengan penampilan seperti itu.
Lelaki itu terduduk lesu. Kejadian di depan matanya begitu cepat. Membuatnya terkejut dan tak bisa berkutik. Jika ia mau, ia bisa saja menghentikanku tapi sepertinya ia menikmati pertunjukanku. Tangannya bergerak pelan menyentuh wajah istrinya. Dipeluknya mayat bersimbah darah itu, seolah-olah dengan begitu bisa menghidupkan istrinya. Berkali-kali ia menyebut nama istrinya, berharap yang disebut namanya dapat menjawab panggilan itu.
Badannya mulai bergetar menahan tangis. Pelukannya semakin erat. Ia bahkan menggoyang-goyangkan raga tanpa nyawa itu dengan frustasi. Ia juga tak segan mengecup mayat itu. Di kening, pipi, hidung, bibir. Seolah dengan melakukannya dapat membuat wanita itu bangkit dari kematian.
“Apa yang kau lakukan? Jasmu jadi kotor semua.” Ucapku sambil menarik mayat wanita itu menjauh darinya. Tubuh kosong itu berguling begitu saja di tengah genangan anyir, tertelungkup di sana. Menjijikan sekali wanita itu!
“Kau…”
“Hah? Kau mengatakan sesuatu? Kau harus mengatakannya lebih keras.” Aku tak bisa mendengar suaranya yang begitu lirih di antara teriakan histeris para hadirin. Kuperhatikan sekilas, beberapa dari mereka berlarian keluar tempat pesta. Beberapa orang membekap mulutnya, tak percaya dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Beberapa dari mereka berbisik-bisik, entah apa. Yang punya nyali, berani mendekat dan mengambil gambar dengan ponsel mereka. Samar-samar dapat kudengar beberapa orang menelepon polisi dan ambulans.
“Apa yang sudah kau lakukan?” jeritannya spontan membuat semua terdiam. Aku pun tak luput terkejut. Dia seperti bukan lelakiku. Lelakiku selalu bertutur lembut, tak peduli sepelik apa masalah yang dihadapi. Bukannya berteriak-teriak histeris seperti ini. Lelakiku matanya teduh, penuh kelembutan. Tidak seperti matanya yang melotot penuh amarah, fokus pada milikku. Lelakiku selalu berusaha tegar. Bukannya menunjukan air mata kelemahan seperti ini.
“Bagaimana bisa kau tega melakukan ini padaku? Dia istriku dan dia sedang mengandung!”
 Aku hanya menggeleng lemah. “Lihat apa yang sudah diperbuat wanita ini padamu.” Aku mendekati mayat penyihir itu. Menginjak-injaknya sambil menatap lelakiku. “Ia telah mengubahmu. Ke mana lelakiku?” Lalu aku menusukan heel-ku ke dalam mata sundal itu. Lelaki di hadapanku makin histeris.
“Apa kau sudah gila?” ia berseru padaku. “Hubungan kita sudah berakhir dan kau harus bisa menerima itu. Mungkin kau marah padanya karena masalah ini tapi anak dalam kandungannya tak punya dosa apapun. Tega sekali kau!”
Ah, dia berisik sekali. Kuarahkan pisau tepat di jantungnya. Cepat dan langsung menyerang organ vital. Ekspresi wajahnya sungguh mengerikan. Kupeluk erat tubuhnya, membuat mata pisauku menancap lebih dalam. Kukecup pipinya sambil berbisik lirih, “Aku mencintaimu.”
Kuputar pisauku. Hanya untuk memastikan benda itu benar-benar merobek jantungnya. Mungkin sakitnya tak seberapa tapi paling tidak dia tahu rasanya. Rasa sakit yang kualami ketika dia memilih wanita lain. Kucabut pisau itu, membuat darahnya menyembur wajahku. Menambah pola polkadot abstrak di bagian atas gaunku. Lalu kubiarkan mayatnya menumbuk tanah, tergeletak bersama wanita itu.
”Kini hubungan kita benar-benar berakhir.”
“Angkat tangan! Jatuhkan pisau itu!” kulakukan perintah polisi itu. Suara pisau berdenting menyentuh tanah. Borgol menghiasi pergelangan tanganku. Pesta telah berakhir.




Penulis adalah mahasiswi jurusan Fisika
Universitas Negeri Malang



Penulis: Luthfie Trias Satya Gayatri​

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.