| Ilustrasi oleh Google |
Mendadak hening. Setiap
gerakan membeku tiba-tiba. Bahkan tarikan napas tak sedikit pun terdengar.
Semua mata tertuju pada satu titik. Hanya bunyi napasku yang terengah-engah
setelah aku selesai dengan apa yang kulakukan. Lalu tiba-tiba semua gaduh.
***
“Maaf, Hana.” Ucapmu
lirih di seberang sana. Aku hanya bisa membisu. Lalu nada statis terdengar di
telingaku. Ya, inilah telepon terakhirmu yang juga menandakan akhir kebersamaan
kita. Tak apa, aku meyakinkan diri. Mataku mulai dipenuhi cairan bening itu.
Ini bukan hal yang buruk, kataku sekali lagi. Kini cairan itu meleleh,
meninggalkan jejak basah di pipiku.
Aku terduduk,
tertunduk. Beberapa tetes cairan itu jatuh ke lantai, membentuk
lingkaran-lingkaran kecil di sana. Aku mendongak, menarik napas dalam-dalam.
Berharap dengan begitu semua cairan ini berhenti keluar dari mataku. Kututup
mataku perlahan, bersandar pada dinding. Gagal. Cairan itu justru menambah
kecepatan alirannya.
Kupeluk lututku
erat-erat, membenamkan wajahku di sana. Aku menyerah dan menangis
sejadi-jadinya. Semua kenanganku dengan lelaki itu muncul ke permukaan. Ketika
kami pertama kali bertemu. Saat kami jatuh cinta. Momen-momen kebahagiaan kami.
Aku tergugu. Mengingat semua itu dan menyadari bahwa itu hanya masa lalu.
Andai saja dia tidak
menerima tawaran pekerjaan itu. Andai saja dia tidak pindah ke kota itu. Andai
saja dia tidak bertemu wanita itu. Andai saja wanita itu tidak jatuh cinta
padanya. Andai saja ia tidak jatuh cinta pada wanita itu. Andai saja mereka
tidak saling dijodohkan. Andai saja dia tidak perlu menikahi wanita itu bulan
depan. Andai saja… Aku hanya bisa berandai-andai. Lelakiku kini telah menjadi
lelakinya.
Entah berapa lama aku
menangisinya. Kuputuskan untuk bangkit. Mengumpulkan serpihan hati, mencoba
menyatukannya kembali. Masih ada kehidupan yang harus kujalani. Kehidupan tanpa
lelakiku.
***
Hari bahagiaku tiba.
Seperti layaknya pengantin pada umumnya, aku pun demam panggung. Apa gaun yang
kukenakan sudah melekat sempurna di tubuhku? Apa semua kancingnya terkait?
Bagaimana bila nanti ada kancing yang terlepas? Apa ada yang salah dengan
tatanan rambutku? Apa ada rambutku yang mencuat tak karuan?
Bagaimana bila nanti
aku terjatuh saat melangkah ke altar? Aku tak pernah mengenakan sepatu dengan
tumit setinggi ini. Apa tata riasku belepotan? Lipstiknya tidak terlalu tebal,
kan? Bagaimana dengan cincinnya? Tidak hilang, kan? Buket bungaku tidak cacat,
kan? Bagaimana dengan kue pengantinnya?
“Tenang. Kau akan
merusak mahakaryaku jika kau terus mondar-mandir seperti ini.” Laras
mencengkram lembut bahuku. Beruntung memiliki sahabat yang bekerja di bidang wedding organizer seperti dia.
“Coba lihat,” Laras
memutar tubuhku menghadap cermin. Di sana terpantul bayangan wanita bergaun
putih dengan gaya ballgown. Rambut
hitamnya tergulung anggun dengan beberapa aksen kepang beserta bunga-bunga
kecil di sela-selanya. Veil sebahu
turut melengkapi pesonanya. Gaun tanpa lengan ini begitu sederhana namun
terlihat pas di tubuhnya dengan pita besar di bagian perut. Andai saja bayangan
itu mengenakan sepatu kaca, mungkin Cinderella akan kalah cantik dengannya.
“Hana, kau cantik
sekali.” Bisik Laras. Aku hanya tersenyum. Bunyi ketukan di pintu membuat kami
menoleh.
“Sudah siap?” Tanya
lelaki paruh baya itu. Aku mengangguk. Perjalanan menuju altar pun dimulai.
Lega rasanya telah
melewati bagian sakral dari rentetan acara ini. Aku melirik jemariku. Jari
manisku tak lagi polos. Cincin emas dengan berlian berbentuk belah ketupat di
tengahnya telah melingkar manis di sana. Aku tersenyum, miris.
Tepat di hadapanku,
duduk lelaki itu. Lelaki yang seharusnya menemaniku di pelaminan ini. Lelaki
yang seharusnya mengikat janji suci denganku. Lelaki yang seharusnya
menyematkan cincin ini di jemariku. Tentu ia tak datang sendiri. Di sampingnya,
duduk wanita itu. Wanita yang mencuri hatinya. Wanita yang merebut posisiku.
Wanita yang menghalangi hari bahagiaku.
Tenang. Aku harus
tenang. Topeng bahagia ini harus tetap terpasang di wajahku walau tanganku
gemetar menahan emosi yang mulai bergemuruh dalam dada. Aku pun beranjak menuju
mereka. Tak lupa kubawakan sepotong kue pengantinku. Dengan senyum termanis,
kusajikan cheesecake itu. Mereka
menerimanya dengan senang hati. Tak lupa memberiku ucapan selamat yang kutahu
itu hanya basa basi.
Aku menatap mereka iri.
Saling menyuapi satu sama lain dengan mesra. Kudengar sedikit obrolan mereka
tentang jabang bayi yang tengah dikandung si wanita. Lelaki itu mengelus pelan
perut istrinya. Tatapannya penuh cinta. Tatapan yang dulu pernah ditujukan
untukku. Hanya untukku.
“Ngomong-ngomong, aku
belum memberi kalian hadiah pernikahan.”
“Tidak perlu
repot-repot.” Tolakmu halus.
“Jangan begitu. Tidak
baik menolak rejeki. Bagaimana kalau hadiahnya kuberikan sekarang?” aku pun
mendekati wanita itu. “Kuharap kau senang dengan hadiah ini.”
Tanganku dengan cepat
meraih pisau yang ada di atas hidangan steak yang baru dimakan setengahnya itu.
Dengan cepat membenamkannya ke dalam perut wanita itu. Tusukan pertama, membuat
beberapa orang di sekitar kami terkejut. Dapat kulihat mata wanita itu
terbelalak. Tusukan kedua, band pengiring berhenti memainkan instrumennya. Kini
semua mata tertuju padaku dan apa yang kulakukan. Tusukan ketiga dan
seterusnya, semua kulakukan dengan cepat seolah-olah aku sudah melatih ini
berkali-kali.
Darah wanita itu
muncrat ke mana-mana. Tercampur dalam wine,
menjadi saus tambahan pada steak, sebagian tertoreh di taplak meja, beberapa
terpercik di wajah tamu undangan di dekatku. Bahkan membentuk pola polkadot
abstrak di gaunku. Tangan wanita itu memegangi perutnya, mencoba menutupi
lubang yang kubuat. Ia berteriak histeris, bagaikan nyanyian sumbang di
telingaku. Lalu ia berhenti bergerak.
Begitu ia tergeletak di
lantai, darahnya menggenang membentuk kolam merah kecil di kakiku. Aku tertawa
dalam hati. Ternyata ia tak begitu cantik. Lihat saja wajah pucatnya dengan
mata melotot! Tidak ada yang menyukai wanita dengan penampilan seperti itu.
Lelaki itu terduduk lesu.
Kejadian di depan matanya begitu cepat. Membuatnya terkejut dan tak bisa
berkutik. Jika ia mau, ia bisa saja menghentikanku tapi sepertinya ia menikmati
pertunjukanku. Tangannya bergerak pelan menyentuh wajah istrinya. Dipeluknya
mayat bersimbah darah itu, seolah-olah dengan begitu bisa menghidupkan
istrinya. Berkali-kali ia menyebut nama istrinya, berharap yang disebut namanya
dapat menjawab panggilan itu.
Badannya mulai bergetar
menahan tangis. Pelukannya semakin erat. Ia bahkan menggoyang-goyangkan raga
tanpa nyawa itu dengan frustasi. Ia juga tak segan mengecup mayat itu. Di
kening, pipi, hidung, bibir. Seolah dengan melakukannya dapat membuat wanita
itu bangkit dari kematian.
“Apa yang kau lakukan?
Jasmu jadi kotor semua.” Ucapku sambil menarik mayat wanita itu menjauh
darinya. Tubuh kosong itu berguling begitu saja di tengah genangan anyir,
tertelungkup di sana. Menjijikan sekali wanita itu!
“Kau…”
“Hah? Kau mengatakan
sesuatu? Kau harus mengatakannya lebih keras.” Aku tak bisa mendengar suaranya
yang begitu lirih di antara teriakan histeris para hadirin. Kuperhatikan
sekilas, beberapa dari mereka berlarian keluar tempat pesta. Beberapa orang
membekap mulutnya, tak percaya dengan kejadian yang baru saja mereka lihat.
Beberapa dari mereka berbisik-bisik, entah apa. Yang punya nyali, berani
mendekat dan mengambil gambar dengan ponsel mereka. Samar-samar dapat kudengar
beberapa orang menelepon polisi dan ambulans.
“Apa yang sudah kau
lakukan?” jeritannya spontan membuat semua terdiam. Aku pun tak luput terkejut.
Dia seperti bukan lelakiku. Lelakiku selalu bertutur lembut, tak peduli sepelik
apa masalah yang dihadapi. Bukannya berteriak-teriak histeris seperti ini.
Lelakiku matanya teduh, penuh kelembutan. Tidak seperti matanya yang melotot
penuh amarah, fokus pada milikku. Lelakiku selalu berusaha tegar. Bukannya
menunjukan air mata kelemahan seperti ini.
“Bagaimana bisa kau
tega melakukan ini padaku? Dia istriku dan dia sedang mengandung!”
Aku hanya menggeleng lemah. “Lihat apa yang
sudah diperbuat wanita ini padamu.” Aku mendekati mayat penyihir itu.
Menginjak-injaknya sambil menatap lelakiku. “Ia telah mengubahmu. Ke mana
lelakiku?” Lalu aku menusukan heel-ku
ke dalam mata sundal itu. Lelaki di hadapanku makin histeris.
“Apa kau sudah gila?”
ia berseru padaku. “Hubungan kita sudah berakhir dan kau harus bisa menerima
itu. Mungkin kau marah padanya karena masalah ini tapi anak dalam kandungannya
tak punya dosa apapun. Tega sekali kau!”
Ah, dia berisik sekali.
Kuarahkan pisau tepat di jantungnya. Cepat dan langsung menyerang organ vital.
Ekspresi wajahnya sungguh mengerikan. Kupeluk erat tubuhnya, membuat mata
pisauku menancap lebih dalam. Kukecup pipinya sambil berbisik lirih, “Aku
mencintaimu.”
Kuputar pisauku. Hanya
untuk memastikan benda itu benar-benar merobek jantungnya. Mungkin sakitnya tak
seberapa tapi paling tidak dia tahu rasanya. Rasa sakit yang kualami ketika dia
memilih wanita lain. Kucabut pisau itu, membuat darahnya menyembur wajahku.
Menambah pola polkadot abstrak di bagian atas gaunku. Lalu kubiarkan mayatnya
menumbuk tanah, tergeletak bersama wanita itu.
”Kini hubungan kita
benar-benar berakhir.”
“Angkat tangan!
Jatuhkan pisau itu!” kulakukan perintah polisi itu. Suara pisau berdenting
menyentuh tanah. Borgol menghiasi pergelangan tanganku. Pesta telah berakhir.
Penulis
adalah mahasiswi jurusan Fisika
Universitas
Negeri Malang
Penulis:
Luthfie Trias Satya Gayatri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.