Kamis, 11 Februari 2016

Katiga Mudangkara1)


Akan ku mulai kisah ini dengan sedikit harap-harap cemas dan sesajen lengkap kepada arwah para leluhur yang mengetahui dengan pasti bagaimana jalan cerita ini terjadi. Tak luput juga telah ku siapkan dada ayam dengan tulang-tulang terbaik dan daging-daging tergemuk agar mulut-mulut yang hendak mencemooh jalan cerita ini tersumpal ayam bakar dan tak sanggup lagi berkoar-koar. Engkau yang merasa paham dengan apa yang tengah dikisahkan, mohon diamlah. Beri kesempatan kepada kebenaran untuk unjuk gigi dihadapan semua orang dengan pongah; layaknya seorang pahlawan menang perang yang meminum anggur dari cawan tengkorak lawan. Pahamilah dengan sungguh-sungguh, bahwa ini sekali-kali bukanlah sebuah niatan buruk.
***
            Disebabkan karena aku tidak rela wilayah kekuasaannya seluas nusantara padahal ia hanya perempuan biasa yang mendapatkan tahta dari warisan bapaknya, ku putuskan untuk berontak dan merongrong kerajaannya. Aku –dengan caraku sendiri, ingin mengajarinya bagaimana harusnya menjadi seorang ratu dari kerajaan sebesar Majapahit yang gemah ripah loh jinawi2). Agar ia tak menjadi ratu yang hanya bisa mengacungkan jemari lentiknya ketika menginginkan sesuatu. Agar ia merasakan bagaimana rasanya jadi aku; jatuh bangun, terluka, terperosok, terjerembab, tersakiti dengan taruhan nyawa demi mendapatkan posisi sebagai pemimpin di suatu wilayah kecil yang hanya sepersekian persen dari keseluruhan wilayah Majapahit.
            Nyatanya ia masih gagap juga menerima pembelajaran dariku, sekalipun sudah ku uji sekian kali dengan berbagai pemberontakan, mulai dari skala kecil hingga sangat besar. Mulai dari mengorbankan nyawa prajurit-prajurit pilihan hingga membuat ribuan gadis-gadis perawan di Majapahit kehilangan calon suaminya. Semuanya tak lantas membuat Kencana Wungu berpikir untuk mundur dan mengalah. Egoisnya –yang diturunkan oleh sang ayah, justru membuatnya menanggapi gempuranku dengan lebih dahsyat dari yang bisa ku bayangkan sebelumnya. Kelak, bila aku telah berpulang dan kepalaku telah terpenggal, biar ku ceritakan kepada semua orang bahwa aku bangga bisa membuat ratu dari kerajaan sebesar Majapahit kebakaran jenggot dan kehilangan wibawanya.
Sudah ku duga jauh-jauh hari sebelumnya, akan ada suatu malam yang agak asin dengan sisa-sisa semburat candikala berwarna merah kekuningan dimana pada hari itu tampillah jajaran Dharmaputra Winehsuka3) di tengah alun-alun kerajaan yang sarat akan keramaian. Seseorang diantara mereka membuka gulungan sebuah perkamen dari daun lontar dan kemudian membacakannya dengan sangat lantang. Aku masih ingat betul, kala itu seorang mata-mata melaporkan padaku bahwa namaku disebut sebanyak dua kali dalam pengumuman itu. Sayembara yang membuat telingaku gatal dan merah-merah hampir seminggu lamanya itu berbunyi, “Barang siapa berhasil menumpas Kebo Marcuet dan menyerahkan penggalan kepala pemberontak Majapahit itu, bila perempuan akan diangkat sebagai saudara Ratu Ayu dan bila laki-laki akan dijadikan suami serta mendampingi sang ratu memimpin Majapahit. Segerakanlah mencari Kebo Marcuet dengan segala upaya, maka niscaya keberuntungan akan menjadi milikmu.”
            Tak lama setelah sayembara itu santer terdengar, dengan sangat terkutuk datanglah seorang lelaki berwajah tampan yang sempat ku kira adalah ksatria kahyangan –mengetuk pintu kerajaan dengan tangan mengepal dan tekad yang bulatnya melebihi sempurnanya sudut-sudut bulan pada saat purnama.
            “Mau apa kau kemari? Tempatmu di kahyangan bersama dengan para bidadari yang rupawannya sepadan denganmu, bukan disini. Relakah kau bila wajah tampanmu berubah bopeng-bopeng, kakimu pincang, tanganmu tak utuh dan dadamu yang bidang tegap itu ku bungkukkan?”
            Jagat dewa batara jadi saksi, sebuah nama telah menjadi korban kelicikan Dewi Suhita4) yang pertama kali.
***
Disebabkan karena aku seorang ksatria dengan kesaktian mandraguna yang ditakuti kekejamannya oleh seluruh Jawadwipa, maka sudah sepantasnya aku merasa patut menyandingkan diri dengannya. Ratu itu –siapapun tahu namanya, sebab ialah perempuan paling anggun di seluruh jagat raya. Sebab namanya berulang kali disebut oleh adipati-adipati dari kadipaten kecil yang tidak punya nyali untuk mendekatinya sekalipun mereka jatuh cinta dengan amat sangat; sama sepertiku. Sebab senandung untuknya dikumandangkan oleh semesta pada sunyinya malam ketika ia hendak berangkat ke peraduannya yang terbuat dari beludu berwarna emas. Sebab pada setiap jangkah langkah kaki yang ia tapakkan di hadapan kaum lelaki telah membangkitkan gairah kejantanan kami untuk bersanding dengannya. Singkatnya, ia adalah manifestasi utuh dari yang jagat raya sebut sebagai “sempurna”.
            Sayembaranya yang menggoda syaraf-syaraf panca indraku itu akhirnya membuatku melangkah dengan tegap memasuki wilayah kerajaan Majapahit dengan membawa sepenggal kepala yang sudah terpisah dari badannya. Dengan mata berbinar dan jantung yang tiada henti berdegup kencang sebab sebentar lagi aku akan naik tahta menjadi raja Majapahit, ku serahkan penggalan kepala berbungkus selembar batik itu kepada kanjeng Suhita. Kalau aku tak salah ingat, saat itu ia mengerling padaku dengan raut wajah jijiknya seraya berkata, “Siapakah engkau gerangan yang buruk rupa namun sakti mandraguna sehingga mampu menumpas Kebo Marcuet?”
            Semesta, sayang sekali ia tidak berkesempatan melihat ketampananku sebelum berperang melawan Kebo Marcuet. Bukan salah takdir bila akhirnya ia memutuskan untuk tidak menepati janjinya seperti yang tertera pada pengumuman dan sayembara demi dilihatnya wajahku yang penuh gores luka sana-sini dan bolong di beberapa bagiannya. Diberinya aku hadiah pertama berupa kadipaten Blambangan, namun diingkarinya janji untuk bersuamikan aku yang telah berhasil mempersembahkan kepala Kebo Marcuet kehadapannya.
            Rupanya ada hal lain yang luput tidak diajarkan oleh Kebo Marcuet selama masa pemberontakannya kepada Ratu Ayu Kencana Wungu, tentang bagaimana harus menghargai kerja keras orang lain yang telah mengorbankan segalanya demi memenuhi panggilan sebagai ksatria; tentang bagaimana menjaga kehormatan dan wibawa dengan tidak menjilat ludah sendiri, mengingkari janji dengan teramat sengaja. Barangkali itulah pelajaran yang harus ku ajarkan sendiri padanya –pada ratuku yang telah membuatku jatuh hati dengan sangat telaknya.
            Ku ajarkan padanya segala hal yang baik-baik, sekalipun dengan cara yang teramat buruk. Ku ajari ia cara memperjuangkan cinta kepada seseorang melalui setiap tebasan pusaka yang menggorok leher setiap prajurit Majapahit yang berusaha menghalangiku bertemu dengannya. Ku ajari ia cara menepati janji melalui satu demi satu pemberontakan yang ku rencanakan. Dan segala pembelajaran yang hendak ku sampaikan menjadi percuma dan tiada guna tatkala ia lebih memilih bersembunyi di balik sayembara keduanya yang berbunyi, “Minakjingga telah membelot dan melakukan pemberontakan besar-besaran kepada Majapahit. Maka dengan ini aku sampaikan bahwa siapapun yang berhasil mengalahkannya dan membawakan padaku penggalan kepala adipati Blambangan, akan ku jadikan suami sekaligus raja di Majapahit.”
Seorang pemuda, yang tampannya setara dengan ketampananku dahulu, melakukan apa yang dulu ku lakukan terhadap Kebo Marcuet. Tidak mengapa, barangkali ia benar-benar belum tahu seperti apa perempuan yang bisanya hanya bersembunyi dibalik ketidakberdayaan dengan mengadakan perulangan sayembara yang sama bunyinya.
            Sekali lagi, dewa batara akan menulis ini sebagai wujud kelicikan Dewi Suhita yang kedua kali.
***
Disebabkan karena aku hanya seorang pengasuh kuda di kepatihan yang jatuh hati kepada gadis bungsu anak dari seorang maha patih terkemuka di Majapahit, maka tidak sepantasnya aku merasa patut menyandingkan diri dengannya. Telah ku cukupkan dalam hatiku nama Dewi Anjasmara sebagai satu-satunya yang ingin ku rengkuh dalam setiap malam yang selama ini selalu ku tenun sendirian. Tak sedetik pun sempat terlintas dalam pikiranku untuk menduakan cinta manakala pada suatu sore yang pucat dan agak mendung itu Patih Logender berjalan dengan penuh wibawa menuju ke alun-alun kerajaan untuk membacakan sebuah pengumuman penting dari sang ratu. Di belakangnya, nampak seorang perempuan dengan kecantikan dan keanggunan luar biasa yang dengan meliriknya sekilas saja, ia telah mampu menyihir lelaki manapun agar tak mengedipkan mata ketika melihatnya.
Lalu, menjadi salah siapa ketika di kemudian hari dewata agung memberiku wajah yang begitu tampan dengan segudang kekuatan yang pada akhirnya berhasil membawaku ke hadapan sang ratu dengan penggalan kepala Minakjingga sebagai wujud baktiku kepada Majapahit? Nyatanya, ketampananku bukan hanya mampu membuat kedua istri Minakjingga takluk sehingga mau memberitahukan kelemahan suaminya padaku, tetapi juga mampu membuat sang ratu tak henti memandangku. Pada akhirnya, aku tak tahan juga mendiamkan Kencana Wungu yang tiada henti menagih janji kapan aku akan menikahinya di hadapan seluruh rakyat Majapahit.
            Kali ini apa-apa yang telah dibelajarkan oleh kedua pemberontak terhebat sepanjang zaman Majapahit –Kebo Marcuet dan Minakjingga– mulai nampak hasilnya. Kencana Wungu tak lagi mengingkari janji, disebabkan karena aku pulang dengan tubuh yang utuh dan ketampanan yang tak berkurang sedikitpun. Kami pun menikah dan dijadikannya aku Raja Brawijaya II yang tidak hanya bertahta di singgasana Majapahit melainkan juga di hatinya.
            Barangkali telah menjadi garis tanganku bila akulah yang ditugaskan untuk menyampaikan pembelajaran terakhir sekaligus paling penting kepada istriku, Kencana Wungu yang anggun nan cantik itu. Bahwa segala hal yang dimulai dari sebuah perlombaan hanya akan melahirkan seorang pemenang, bukannya seorang pecinta sejati. Maka aku tak segan-segan menolak titahnya manakala pada suatu malam yang hening ketika nafasnya terasa dekat sekali dengan leherku, ia berkata manja, “Aku ingin jadi satu-satunya di hidupmu, Kanda. Tinggalkanlah Anjasmara.”
            Denyut nadiku tersentak bagai tersengat aliran listrik, gendang telingaku terasa gatal dan hidungku kembang kempis kemerahan menahan marah yang merah. “Apa-apaan engkau ini?” bentakku. Wajah ayunya seketika berubah menjadi sayup, menandakan bahwa ia tak suka titahnya dibantah.
            “Sudah seminggu engkau menduduki tahta Majapahit dan menyandingku dengan begitu gagahnya. Tak ada yang tak hormat padamu disebabkan karena apa-apa yang telah ku bagi secara sukarela: mahkota, harta, kedudukan, kekuasaan, dan segala kesempurnaan. Ku kira kepala Minakjingga saja tak cukup sebagai timbal baliknya”, ungkap istriku mencurahkan isi hatinya.
            Sehabis berkata demikian, Kencana Wungu menyandarkan kepalanya ke dada bidangku. Kedua tangannya yang putih mulus karena setiap hari bermandikan lulur susu melingkar dengan anggun di punggungku yang tegap. Dilepaskannya mahkota kerajaan yang menyembunyikan rambut harum nan hitamnya, sehingga untaian rambutnya kini bebas membelai wajahku. Aku hanya diam seribu bahasa, mematungkan diri menjadi arca dihadapannya. Melihatku tidak menampakkan reaksi apa-apa, ia kembali bertanya, kali ini dengan nada paling sarkatis yang pernah ku dengar, “Engkau masih mencintaiku, Kanda?”
            Gelengan kepalaku sebagai jawabannya menjadi awal dari segala petaka. Langit fajar Majapahit yang merekah mekar ketika ditumbuhi sinar-sinar matahari menjadi saksi pelarianku membawa serta Anjasmara ke tempat yang paling aman dari jangkauannya. Ku bawa pergi tambatan hatiku, pemilik sejati denyut nadi dan detakan jantungku. Tak ku relakan tulang rusukku dicederai, apalagi oleh orang yang mengaku mencintaiku dengan sangat. Rasakanlah, Suhita, ini buah dari semua kelicikanmu selama engkau bersembunyi di balik mahkota kekuasaanmu.
Tetapi Suhita tidak akan bergelar Tribuwana Tungga Dewi kalau ia tak memiliki banyak cara licik untuk memenuhi maunya. Diadakannya sayembara ketiga, kali ini aku sebagai targetnya. Sayembara itu berbunyi, “Prabu kalian yang sekaligus ialah suamiku hilang akal karena telah dengan sengaja mengkhianati Majapahit dan mendustai titahku. Barang siapa yang menyerahkannya padaku dalam keadaan hidup dan mati, bila perempuan akan ku angkat sebagai penggantiku dan bila laki-laki akan ku jadikan suamiku.”
            Kali ini jagat dewa batara sudah lelah bila harus mencatat kelicikan Dewi Suhita untuk yang kesekian kalinya. Maka mereka biarkan saja segala tindakan ratu Majapahit itu semaunya.
***
Dan pada akhirnya, ia mengulangi lagi kelicikannya dengan cara yang sama. Semua yang merasa pintar seharusnya menyadari permainan bulus apa yang sedang diperankan oleh sang ratu. Yang tidak cukup pintar untuk menarik kesimpulan, sebaiknya mundur jauh dari jangkauan dan kerlingannya. Sebab bila ia tidak, ia akan menjadikanmu kepala keempat sebagai penghias dinding kamarnya. Ya, kepala keempat setelah sayembara memenggal kepala KePenulbo Marcuet dimenangkan oleh Minakjingga, kemudian kepala Minakjingga ditebas dengan gada rujak pala oleh Damarwulan dan yang terakhir kepala seseorang yang namanya tak kuasa ia sebutkan.
Ambillah ia selagi kau masih ingin. Sebelum pada akhirnya, kau pun akan mengerti seperti apa perempuan yang kepadanyalah kepalaku ingin kau persembahkan.
Sebuah kalimat diucapkan secara bersamaan oleh tiga penggal kepala yang terletak disamping tempat tidur Ratu Ayu Kencana Wungu: kepala Kebo Marcuet, kepala Minakjingga dan yang terakhir ialah penggalan kepala kesayangan sang ratu –penggalan kepala milik seorang pemuda tampan yang membuatnya tidak berkedip bila memandang, dari dulu hingga sekarang. ♦



 Keterangan:
1) bahasa Sansekerta, artinya Tiga Penggal Kepala
2) peribahasa jawa yang menggambarkan sebuah negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ruah
3) sebutan untuk jajaran penasehat kerajaan di Majapahit

4)nama lain dari Ratu Ayu Kencana Wungu


Cerpen ini Juara II Lomba Cerpen se-UM oleh HMJ Sastra Indonesia tahun 2014


Penulis: Novia Anggraini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.