Awal sebuah rasa manis
akan tetap manis, jika kita pintar mengolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita
ini berawal dari seorang cewek yang bernama Rani, dan seorang cowok yang
bernama Aldi. Mereka sudah menjalin status pacaran mungkin sekitar dua tahun
lebih. Mereka sangat cocok, dengan cewek yang egois dan si cowok yang
sebaliknya. Hal itulah yang membuat
mereka bisa bertahan lama, saling melengkapi. Hingga teman-teman mereka dibuatnya
iri dengan hubungan mereka yang jarang sekali berantem, (iya iyalah kan cowoknya yang selalu ngalah). Coba saja kalau
keduanya sama-sama tidak mau mengalah, mungkin tidak sampai dua tahun sudah
putus hubungan.
***
Langit mulai
menampakkan rasa sedihnya dengan warna kelabu. Rani menatap sang langit sejenak
lalu merogoh tasnya. Setelah hampir mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam
tasnya, akhirnya ia mendapatkan benda yang diinginkan. Rani mendapati telepon
genggamnya, dan segera menghubungi Aldi. Ia ingin Aldi segera menjemputnya di
sekolah, karena sepertinya hujan akan segera turun.
Rani dan Aldi berbeda
sekolah dengan jarak sekolah mereka yang bisa dibilang cukup jauh dan
membutuhkan waktu lama. Hampir setengah jam Rani menunggu, tetapi sang pujaan
hatinya tidak kunjung datang sampai halaman sekolah berangsur-angsur sepi. Hingga
satu jam berlalu, Aldi tetap tak tampak batang hidungnya, Rani kesal bukan
main.
Rani menunggu di
gerbang sekolah dengan Mirna, teman sebangkunya yang senasib dengannya
sama-sama menunggu jemputan. Untung Rani ada temannya, jika tidak, bisa-bisa
Aldi akan mendapati omelannya sepanjang perjalanan pulang. Tak berapa lama Aldi
sampai di sekolahnya Rani.
“Maaf telat, Sayang.” Ujar
Aldi menyesal setengah takut terkena omelan pacarnya.
Rani hanya tersenyum
kecut dan mengalihkan tatapannya pada Mirna, memberikan gadis itu senyum ramah
tanda ia akan pulang duluan bersama Aldi. Mirna hanya membalasnya singkat. Sepanjang
perjalanan pulang, Aldi mencoba untuk mulai pembicaraan. Ia tahu Rani sedang
kesal padanya.
“Maaf ya, Sayang. Tadi
masih ada pengumuman, maklum udah kelas 12.” Kata Aldi berusaha memberikan
penjelasan.
“Iya, nggak apa-apa,
kok.” Rani menjawabnya ketus, mimik wajahnya masih ia pasang sedatar mungkin.
“Kita lewat jalan dalam
saja, ya. Nanti takutnya macet.” Aldi masih berusaha untuk tidak membuat
gadisnya marah lagi.
Rani masih bertahan
dengan keterdiamannya, sementara itu hujan turun cukup deras. Mereka memutuskan
untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Tidak ada rumah penduduk
hanya pohon dan sawah yang ada di sekitar mereka. Di situ Rani mulai mau
berbicara dengan Aldi.
“Agak sinian, Al, kena
hujan nanti kamu,” tutur Rani setengah khawatir.
Aldi merasa senang
karena di balik diamnya Rani sedari tadi, ternyata gadis itu masih bisa
mengkhawatirkannya.
“Iya, Sayang.” Senyum
Aldi mengembang, lantas ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Rani.
“Nggak usah.” Reflek
Rani menolak jaket yang dipakaikan oleh Aldi.
“Kenapa? Kamu pakai
saja jaketnya, aku nggak apa-apa,” Aldi kembali memakaikan jaketnya Rani.
“Makasih,” Rani
akhirnya mau memakai jaket Aldi, gadis itu tersnyum.
“Maafin aku tadi jemput
kamunya telat,” ujar Aldi merasa bersalah.
“Sebenernya aku nggak
marah kok, cuma tadi lagi ada konfliksama temen sekelasku. Eh, yang kena
marahnya kamu, maafin aku ya, Sayang.” Jelas Rani panjang lebar diakhiri dengan
senyumnya yang melengkung cantik.
“Iya, Sayang, nggak
apa-apa kok, lihat kamu senyum saja aku udah seneng kok,” ujar Aldi seraya
mengecup kening Rani ringan.
Sudah satu jam lebih
mereka berteduh, tapi sayangnya hujan tak kunjung reda. Akhirnya mereka
memutuskan untuk menerobos hujan tanpa sebuah jas hujan. Sampai di rumah Rani,
Aldi enggan untuk mampir, ia beralasan
kalau baju yang ia pakai basah dan dia merasa sungkan.
Aldi pun memilih segera
pulang. Sesampainya di rumah, mandi adalah tujuan pertamanya, setelahnya ia
mencoba untuk menyalakan ponselnya, tapi benda itu tidak merespon apa pun.
layarnya masih gelap, mungkin karena efek kehujanan tadi. Aldi bingung, tapi di
balik kebingungannya ia tak sedikitpun menyalahkan Rani. Ia tetap memberi kabar
kepada Rani dengan menggunakan ponsel milik ibunya. Tanpa memberitahu kalau ponsel
miliknya sedang rusak.
***
Entah sejak kapan Rani
dekat dengan seorang teman cowoknya, sebut saja namanya Rangga. Hampir setiap
saat ia berkomunikasi dengannya, entah lewat layanan chatting di sosial media maupun melalui telepon hanya untuk
mendengarkan suaranya. Tanpa sadar hubungannya dengan Aldi merenggang, padahal
selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada pertengakaran yang berarti.
Berselang kemudian,
Rani memutuskan hubungannya dengan Aldi. Dia lebih memilih jalan bersama Rangga
yang memiliki predikat playboy
daripada Aldi yang telah baik kepadanya. Namun, sepertinya Rani salah
memprediksi, ia lupa bahwa Rangga adalah pemain yang ulung. Dua minggu menjalin
hubungan dengan Rangga, mereka pun putu. Alasan klasik yang seringkali dipakai,
ia tidak menyangka kalau Rangga tidak sebaik dugaannya.
Satu tahun berlalu
dengan singkat, selama itulah Rani dan Aldi tak berkomunikasi satu sama lain.
Hingga ketika kabar ayah Rani masuk rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah saling
mengenal, maka saat kabar itu sampai pada orang tua Aldi, mereka datang untuk
menjenguk. Rani hanya melempar senyum saat bertatap muka dengan Aldi setelah
sekian lama. Meskipun kedua orang tua mereka membahas tentang hubungan mereka,
tapi tampaknya keduanya masih sulit untuk memulai pembicaraan.
Sesekali orang tua Aldi
masih datang menjenguk, kadang hanya Aldi sekadar membawa makanan atau menemani
Rani menjaga ayahnya. Di malam hari Rani duduk sendirian menatap langit di
teras ruangan rumah sakit, Aldi yang baru saja datang menghampiri gadis itu dan
mencoba menyapanya.
“Hai, bagaimana kuliah
kamu, Ran?” tanya Aldi sembari memberikan senyum sekilasnya pada Rani.
“Baik, kamu sendiri
bagaimana kerjaannya?” jujur Rani kaget disapa oleh Aldi, ia hanya tersenyum
dan membalas sekenanya.
“Alhamdulillah, Ran.
Kita lama nggak ketemu, ya,”
Rani hanya mengangguk
mengiyakan ucapan Aldi. Sayang, percakapan mereka tak berlangsung lama, Rani
dipanggil oleh ibunya untuk menjaga ayahnya, sementara ibunya pergi untuk makan
malam dengan orang tua Aldi.
Di dalam kamar inap
ayahnya, Rani merenung tentang sikap Aldi yang masih saja baik kepadanya dan
keluarganya. Padahal dirinya telah mengkhianatinya. Ada niat ingin memulai
hubungan yang baik dengan Aldi, tapi Rani masih sering bimbang dan takut
kalau-kalau dirinya kembali membuat Aldi sakit hati. Meski ia tahu bahwa Aldi
tidak mempermasalahkannya. Ia masih takut.
Penulis adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang
Penulis: Desi Ayu Suryadini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.