Jumat, 19 Februari 2016

Bukan Apa-apa, Tapi...

Ilustrasi oleh Fantasiousid

Awal sebuah rasa manis akan tetap manis, jika kita pintar mengolah rasa manis itu agar tetap manis. Cerita ini berawal dari seorang cewek yang bernama Rani, dan seorang cowok yang bernama Aldi. Mereka sudah menjalin status pacaran mungkin sekitar dua tahun lebih. Mereka sangat cocok, dengan cewek yang egois dan si cowok yang sebaliknya.  Hal itulah yang membuat mereka bisa bertahan lama, saling melengkapi. Hingga teman-teman mereka dibuatnya iri dengan hubungan mereka yang jarang sekali berantem, (iya iyalah kan cowoknya yang selalu ngalah). Coba saja kalau keduanya sama-sama tidak mau mengalah, mungkin tidak sampai dua tahun sudah putus hubungan.
***
Langit mulai menampakkan rasa sedihnya dengan warna kelabu. Rani menatap sang langit sejenak lalu merogoh tasnya. Setelah hampir mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tasnya, akhirnya ia mendapatkan benda yang diinginkan. Rani mendapati telepon genggamnya, dan segera menghubungi Aldi. Ia ingin Aldi segera menjemputnya di sekolah, karena sepertinya hujan akan segera turun.
Rani dan Aldi berbeda sekolah dengan jarak sekolah mereka yang bisa dibilang cukup jauh dan membutuhkan waktu lama. Hampir setengah jam Rani menunggu, tetapi sang pujaan hatinya tidak kunjung datang sampai halaman sekolah berangsur-angsur sepi. Hingga satu jam berlalu, Aldi tetap tak tampak batang hidungnya, Rani kesal bukan main.
Rani menunggu di gerbang sekolah dengan Mirna, teman sebangkunya yang senasib dengannya sama-sama menunggu jemputan. Untung Rani ada temannya, jika tidak, bisa-bisa Aldi akan mendapati omelannya sepanjang perjalanan pulang. Tak berapa lama Aldi sampai di sekolahnya Rani.
“Maaf telat, Sayang.” Ujar Aldi menyesal setengah takut terkena omelan pacarnya.
Rani hanya tersenyum kecut dan mengalihkan tatapannya pada Mirna, memberikan gadis itu senyum ramah tanda ia akan pulang duluan bersama Aldi. Mirna hanya membalasnya singkat. Sepanjang perjalanan pulang, Aldi mencoba untuk mulai pembicaraan. Ia tahu Rani sedang kesal padanya.
“Maaf ya, Sayang. Tadi masih ada pengumuman, maklum udah kelas 12.” Kata Aldi berusaha memberikan penjelasan.
“Iya, nggak apa-apa, kok.” Rani menjawabnya ketus, mimik wajahnya masih ia pasang sedatar mungkin.
“Kita lewat jalan dalam saja, ya. Nanti takutnya macet.” Aldi masih berusaha untuk tidak membuat gadisnya marah lagi.
Rani masih bertahan dengan keterdiamannya, sementara itu hujan turun cukup deras. Mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Tidak ada rumah penduduk hanya pohon dan sawah yang ada di sekitar mereka. Di situ Rani mulai mau berbicara dengan Aldi.
“Agak sinian, Al, kena hujan nanti kamu,” tutur Rani setengah khawatir.
Aldi merasa senang karena di balik diamnya Rani sedari tadi, ternyata gadis itu masih bisa mengkhawatirkannya.
“Iya, Sayang.” Senyum Aldi mengembang, lantas ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Rani.
“Nggak usah.” Reflek Rani menolak jaket yang dipakaikan oleh Aldi.
“Kenapa? Kamu pakai saja jaketnya, aku nggak apa-apa,” Aldi kembali memakaikan jaketnya Rani.
“Makasih,” Rani akhirnya mau memakai jaket Aldi, gadis itu tersnyum.
“Maafin aku tadi jemput kamunya telat,” ujar Aldi merasa bersalah.
“Sebenernya aku nggak marah kok, cuma tadi lagi ada konfliksama temen sekelasku. Eh, yang kena marahnya kamu, maafin aku ya, Sayang.” Jelas Rani panjang lebar diakhiri dengan senyumnya yang melengkung cantik.
“Iya, Sayang, nggak apa-apa kok, lihat kamu senyum saja aku udah seneng kok,” ujar Aldi seraya mengecup kening Rani ringan.
Sudah satu jam lebih mereka berteduh, tapi sayangnya hujan tak kunjung reda. Akhirnya mereka memutuskan untuk menerobos hujan tanpa sebuah jas hujan. Sampai di rumah Rani, Aldi enggan untuk  mampir, ia beralasan kalau baju yang ia pakai basah dan dia merasa sungkan.
Aldi pun memilih segera pulang. Sesampainya di rumah, mandi adalah tujuan pertamanya, setelahnya ia mencoba untuk menyalakan ponselnya, tapi benda itu tidak merespon apa pun. layarnya masih gelap, mungkin karena efek kehujanan tadi. Aldi bingung, tapi di balik kebingungannya ia tak sedikitpun menyalahkan Rani. Ia tetap memberi kabar kepada Rani dengan menggunakan ponsel milik ibunya. Tanpa memberitahu kalau ponsel miliknya sedang rusak.
***
Entah sejak kapan Rani dekat dengan seorang teman cowoknya, sebut saja namanya Rangga. Hampir setiap saat ia berkomunikasi dengannya, entah lewat layanan chatting di sosial media maupun melalui telepon hanya untuk mendengarkan suaranya. Tanpa sadar hubungannya dengan Aldi merenggang, padahal selama ini mereka baik-baik saja. Tidak ada pertengakaran yang berarti.
Berselang kemudian, Rani memutuskan hubungannya dengan Aldi. Dia lebih memilih jalan bersama Rangga yang memiliki predikat playboy daripada Aldi yang telah baik kepadanya. Namun, sepertinya Rani salah memprediksi, ia lupa bahwa Rangga adalah pemain yang ulung. Dua minggu menjalin hubungan dengan Rangga, mereka pun putu. Alasan klasik yang seringkali dipakai, ia tidak menyangka kalau Rangga tidak sebaik dugaannya.
Satu tahun berlalu dengan singkat, selama itulah Rani dan Aldi tak berkomunikasi satu sama lain. Hingga ketika kabar ayah Rani masuk rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah saling mengenal, maka saat kabar itu sampai pada orang tua Aldi, mereka datang untuk menjenguk. Rani hanya melempar senyum saat bertatap muka dengan Aldi setelah sekian lama. Meskipun kedua orang tua mereka membahas tentang hubungan mereka, tapi tampaknya keduanya masih sulit untuk memulai pembicaraan.
Sesekali orang tua Aldi masih datang menjenguk, kadang hanya Aldi sekadar membawa makanan atau menemani Rani menjaga ayahnya. Di malam hari Rani duduk sendirian menatap langit di teras ruangan rumah sakit, Aldi yang baru saja datang menghampiri gadis itu dan mencoba menyapanya.
“Hai, bagaimana kuliah kamu, Ran?” tanya Aldi sembari memberikan senyum sekilasnya pada Rani.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kerjaannya?” jujur Rani kaget disapa oleh Aldi, ia hanya tersenyum dan membalas sekenanya.
“Alhamdulillah, Ran. Kita lama nggak ketemu, ya,”
Rani hanya mengangguk mengiyakan ucapan Aldi. Sayang, percakapan mereka tak berlangsung lama, Rani dipanggil oleh ibunya untuk menjaga ayahnya, sementara ibunya pergi untuk makan malam dengan orang tua Aldi.
Di dalam kamar inap ayahnya, Rani merenung tentang sikap Aldi yang masih saja baik kepadanya dan keluarganya. Padahal dirinya telah mengkhianatinya. Ada niat ingin memulai hubungan yang baik dengan Aldi, tapi Rani masih sering bimbang dan takut kalau-kalau dirinya kembali membuat Aldi sakit hati. Meski ia tahu bahwa Aldi tidak mempermasalahkannya. Ia masih takut.




Penulis adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Malang




Penulis: Desi Ayu Suryadini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.