Kamis, 17 Maret 2016

Siluet

Ilustrasi oleh Google

            Malam begitu sunyi. Udara dingin masuk melalui celah-celah tembok yang berbahan bambu, ditambah bau menyengat yang sepertinya sudah memenuhi kamarku, membuatku terjaga. Entah siapa yang masih bermain-main larut malam seperti ini. Aku pun tak tahu permainan macam apa itu. Hal ini selalu terjadi setiap kali menjelang malam jumat. Mungkin karena mitos tentang malam jumat yang katanya, pada malam jumat itu banyak setan yang berkeliaran. Namun aku tak mengerti apa tujuannya, untuk melindungi diri, mencelakai orang lain atau justru untuk memanggil setan-setan itu. Yang jelas bagiku, itu sangat tidak masuk akal dan sangat mengganggu tidur nyenyakku.
            Semenjak ibu tiada, aku berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan ini sendiri. Dulu aku selalu merengek sampai ibu datang ke kamarku dan menenangkanku. Namun tidak mungkin lagi aku merengek pada ayah, karena aku tahu, ayah pasti lelah setelah bekerja di sawah seharian.
*
            Fajar mulai menghilang, suara kokok ayam pun sudah tak terdengar. Seorang gadis berkerudung putih mencari-cari sesuatu dekat pohon beringin di belakang rumahnya yang berjarak tak sampai 10 meter itu. Ternyata ini yang menyebabkan bau menyengat itu. Dia membawa sebuah tungku utuh yang di atasnya terdapat sesuatu yang sudah menjadi arang. Dia berlari mencari ayahnya. “Ayah apa ini?”
           Ayah gadis itu masih sibuk menyiapkan makanan di dapur. Seketika itu dia duduk jongkok di depan gadis itu. “iki menyan lan dupa jenenge,”1 ayah membelai rambut anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.
            “Siapa ya Ayah, yang malam-malam bermain ini di bawah pohon? Baunya sangat tidak enak.” Gadis itu berjalan berbelok arah sambil menggerutu. Raut wajahnya terlihat sekali jika dia sangat tidak menyukai benda itu. Ayah hanya tersenyum melihat tingkah anaknya yang sangat lugu itu. Dan menganggapnya hanya sebuah gurauan.
*
             Hari ini malam jumat, aku akan menemukan siapa pengganggu tidurku. Aku sudah bersiap dengan sebuah sapu di tangan. Aku tajamkan penglihatanku di balik jendela yang sengaja tidak aku tutup rapat. Aku pastikan dia akan tertangkap olehku dan ayahku akan mengadilinya, huh. Kakiku mulai kesemutan berdiri sedari tadi. Namun dia tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
            Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki semakin mendekat. Aku lebih memfokuskan diri. Aku perhatikan dengan seksama wajahnya yang terbalut kegelapan. Hanya remang cahaya lampu lima watt di belakang rumah yang membantuku mempertajam penglihatanku. Aku mengucek mataku. Aku coba melihatnya dengan saksama lagi. Ternyata. “Sadam!” Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, seraya berteriak memanggil anak Ibu Hartini tetangga sebelah rumah.
“Ternyata kamu yang main-main kayak gituan malam-malam? Awas ya kalau kamu tidak berhenti, aku akan mengadukanmu pada Ayah.” Sepertinya Sadam pura-pura tidak mendengarku atau tidak mengerti maksudku, muka tololnya terlihat jelas olehku. Namun aku tak peduli, seketika itu tanpa menunggu jawabannya, aku menutup jendela.
            Langkah kakiku kian cepat. Kuhampiri Sadam yang kerap kali jahil kepadaku. “Untuk apa kamu main-main dengan itu?” Kupukul pundak kirinya sehingga dia berbalik arah.
            “Ini bukan main-main tahu. Ini bisa untuk melancarkan rezeki,” Sadam berdiri di hadapanku dengan membawa tungku yang mirip dengan genting yang aku bawa kemarin.
            “Yang Maha Pemberi Rezeki itu hanya Allah, bukan pohon, dupa, apalagi menyan. Awas ya aku adukan kamu ke ayah. Agar kamu diberitahu bahwa ini namanya musyrik.”
            “Ha?” Tanpa pikir panjang lagi aku kembali ke tempat peraduanku. Besok kamu pasti menyesal.
            Esoknya, sebelum ayah berangkat ke sawah, aku sudah mengadukan perbuatan Sadam. Sambil tersenyum ayah menjawab, “Masa...” Ayah mulai menggodaku dengan nada bicaranya yang tidak seperti biasanya. “Mungkin dia sedang bermain suatu permainan yang menarik.
            Bermain kok rutin setiap malam jumat, “Kata guru ngajiku itu kan dilarang agama, Ayah. Ibu dulu juga bilang bahwa itu musyrik.” Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Dia segera mengambil bekal di meja dapur dan berangkat tanpa mengucapkan apapun, hanya senyum yang menggantung di bibirnya. Senyum yang tidak bahagia.
*
            Sunyi. Malam mulai larut, namun aku tetap terjaga. Hari ini malam jumat, aku tidak tahu apakah ayah telah menegur Sadam atau tidak, aku masih belum mencium bau yang sangat aku benci itu. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak tenang. Aku tarik selimut tipisku dan mencoba memejamkan mata. Berharap Allah memberikan nikmat tidur padaku. Aku harap bau tidak sedap itu enyah untuk malam ini dan seterusnya.
            Pintu mimpi masih tertutup untukku. Tiba-tiba telingaku menangkap suara langkah kaki. Pasti Sadam. Darahku terasa naik seluruhnya ke kepala. Aku mengambil kelereng dan ketapel yang menggantung di tembok bambu tepat di sebelah jendela. Akan aku pastikan kelereng ini melesat tepat di kepala Sadam. Meski aku seorang perempuan, ayah pernah mengajariku memakai ketapel untuk bermain. Sekarang sudah jarang aku menggunakannya.
            Perlahan dan dengan sangat hati-hati aku buka jendela kamarku. Aku siapkan tiga kelereng. Kelereng pertama sudah siap untuk aku arahkan pada sasaran. Aku tarik tali ketapel itu sekuat tenaga tepat di depan wajahku, aku pejamkan salah satu mataku untuk memastikan kelereng ini tepat sasaran. Perlahan aku arahkan ketapel itu pada...  Ayah. Seketika itu kelereng itu melesat tidak tentu arah. Benarkah itu Ayah?
Kulihat ayah berkomat-kamit sambil memejamkan matanya. Sepertinya kelereng itu menabrak benda yang keras. Suarnya membuat ayah berhenti. Ia memandangku yang sedang berdiri tegap dan berkaca-kaca. Aku tak percaya. Aku seolah melihat bayangan ibu menangis meronta-ronta. Tak terasa air mata telah jatuh dan mendarat di pipiku. Ayah melanjutkan ritualnya, ia tak menghiraukanku. Seketika itu aku tutup jendela kayu itu rapat-rapat.
*
            Hembusan angin fajar menerbangkan kerudung gadis itu. Dia ingat waktu pertama kali ibunya memakaikan kerudung itu. “Jangan pernah melepaskannya,” Itu adalah pesan ibunya dahulu. Namun sungguh sangat miris, dua hari setelah itu, ibunya meninggalkannya untuk selamanya karena suatu penyakit yang tidak diketahui apa namanya, orang-orang mengatakan bahwa ibunya disantet2. Dia duduk di tepi sawah yang menghadap hamparan tanaman padi yang sebenarnya berwarna hijau. Namun matahari belum datang untuk memperjelasnya, kini padi itu masih terlihat berwarna hitam. Ibu, apa Ibu tahu perbuatan Ayah? Hatinya bergejolak dalam sepi. Dia hanya menatap kekosongan. Aku harus menerimanya kah, Ayah? Dia memperhatikan sekelilingnya. Pohon kelapa itu. Hitam. Namun tetap saja itu adalah pohon kelapa. Sama sepertiku melihat ayah. Aku melihatmu dalam bayang siluet. Bagaimanapun perilaku dan keadaanmu, engkau tetap Ayahku. Tangisnya meledak. Ya dia tetap Ayahku.
*
            Maafkan Ayah. Seorang lelaki paruh baya berdiri dari kejauhan. Ayah telah mengecewakanmu. Namun itu aku lakukan untukmu. Lelaki itu pun tak berkutik dari tempatnya. Cukup ibumu saja yang pergi. Suatu hari kau akan mengerti. Tentang semua sandiwara ini. Sandiwara untuk melindungimu dari mereka.
*


1. Ini menyan dan dupa namanya
2. Sejenis ilmu sihir dalam kepercayaan orang Jawa




Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang


Penulis: Wiki Dwi Ningrum

Jumat, 04 Maret 2016

Antara Waktu dan Jawaban

Ilustrasi oleh Google

Tak ada yang kukatakan lagi
Entah dalam jawaban yang sengaja kau rangkai
Ataupun cerita yang kau sajikan
Semua bukanlah hal yang mudah untuk kubaca

Sedangkan aku lebih suka membaca puisiku
Ketimbang harus mengerti jawabanmu nanti
Tapi sebenarnya perkara waktu menjadi alasan
Ia saling bertatapan namun tak seperti sebelumnya

Saat ia masih berpangku tangan dengannya
Iya, antara waktu dan kau yang sibuk merangkai jawaban
Seperti labu yang membusuk aku tertidur
Sampai lelap membawaku pada malam
yang tak sempat kupikirkan





Penulis: Achmad Fathoni

Daun Jatuh

Ilustrasi oleh Google


Melihat daun yang jatuh tanpa sebab
Ia tak seperti bunga-bunga yang berguguran
Antara kering atau layu
Sebab kusisipkan tanah yang diam-diam menyimpan suara
Namun tanah sebenarnya belum tentu mampu menerima
Karena tak mungkin ia harus memikul ribuan daun berjatuhan

Apalagi rindu, ia tak pandai dalam hal itu
Mungkin rimba yang belukar pun seperti itu
Antara tanah yang enggan atau daun yang berguguran
Lantas bagaimana daun-daun itu terjatuh?
Mereka kering sebab menunggu?

Bukan hujan ataupun cahaya
Ia nampak familiar saat tubuhnya terhempas angin
Bagaimana mereka memadu kasih?
Tentu dengan cara yang berbeda ketika daun dihidupinya
Melihat daun yang jatuh tanpa sebab
Sebab tanahnya hampar 




Penulis: Achmad Fathoni

Rindu yang Menjadikannya Abu

Ilustrasi oleh Pixabay


Langkahnya tak kunjung henti
sampai pada waktu yang tak kunjung tiba
garis demi garis di buat ‘tuk sekedar menandai
tentang rindu yang menjadikannya abu
perkara yang lebih rumit
ketimbang semburatnya pekat kopi
ia tak lagi mampu mengangkat kedua kakinya
serong ke kanan ataupun ia bawa ke belakang
sedangkan ia sedang belajar
bagaimana menggerakkan tangan
mengangkatnya hingga ke pipi
lalu ia lekas pergi meninggalkan aroma mawar
kupikir tak sengaja tertinggal
sedangkan daun selalu lebih unggul dalam hal menunggu
entah itu hujan atau matahari






Penulis: Achmad Fathoni

Menunggu Waktu

 
Ilustrasi oleh Mudazine

Seorang gadis dan lelaki yang tengah diselimuti rindu dan tanya tengah beradu tatap. Si gadis yang tengah menitipkan tanya pada waktu, tak kunjung mendengar jawab. Si lelaki yang sedang bergumul dengan ragu pun menyandarkan harapnya pada waktu yang tak kunjung memberi pertanda. Baginya, mengungkapkan rasa adalah aib. Lalu, si pria berjanji pada dirinya sendiri, “Baiklah, besok.” Esoknya si pria datang menemui si gadis, namun sayang si gadis telah tiada.



Penulis adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris

Universitas Negeri Malang



Penulis: Anggia Mirza

Wanita dengan Gaun Polkadot

 
Ilustrasi oleh Wihdanbae
Tiap malam, di bawah lampu jalan yang sama, seorang wanita datang dengan gaun yang sama selama sewindu. Ia tak mau berganti baju karena ia khawatir sang pujaan hati tak mengenalinya. Selama sewindu wanita itu dirundung rindu. Pria itu berjanji akan menemuinya lagi, tapi entah kapan. Dalam balutan gaun putih polkadot, wanita itu berdiri menghadap jalan raya tak peduli jika orang-orang menyebutknya gila.


Penulis adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris

Universitas Negeri Malang


Penulis: Anggia Mirza

Menanti Ibu

 
Ilustrasi oleh Google
Si Buyung kecil sedang duduk sambil memegang perut—menahan lapar, menanti ibunya yang berjanji akan membawa beras. Si Buyung tak tahu bahwa rusuk ibunya remuk diinjak ratusan orang yang berebut sekantong beras zakat fitrah.



Penulis adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris

Universitas Negeri Malang


Penulis: Anggia Mirza