| Ilustrasi oleh Mirada Profesional |
Terang lampu menyorot di
antara kepingan salju
Trem berhenti pada detik
lebat bulan biru itu
Menggigil sendiri di
peron yang sepi
Tak ada yang menjemput
dengan sebuah payung hitam
Ia tersenyum saja
Mengabaikan rasa kecewa
Menanggalkan rasa putus
asa
Gaunnya berkibar, anak
rambutnya bergoyang
Pada pukul sepuluh itu
ia menatap jalan beton
Ia rasa ini akan percuma
Tidak ada lagi kabar
yang membawa cerita
Lagi-lagi dia menelan
kecewa
Sekali lagi ia
ditinggalkan tanpa berita
Konspirasi semesta
mengganjal urat nadi
Sudah terlalu sering ia
ditinggal pergi
Kadangkala ia tidak
dianggap ada
Lalu buat apa selama ini
ia ada?
Ia utuh seperti sukma
Menunggu ragu datang
menyapa kalbu
Tapi, sadarkah ia bahwa
ragunya sudah sering datang?
Cukup sampai di sini
saja seharusnya
Tidak ada kata lagi
Mungkin sudah hilang
kata lagi
Percuma ia menanti
Penulis: Iklima Bhakti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.