Jumat, 04 Maret 2016

Eyang Putri

Ilustrasi oleh Google

 Orang-orang memanggilnya Eyang Putri. Selain karena usianya yang senja, Eyang Putri memang ingin dipanggil Eyang Putri oleh siapa saja. Tak terkecuali oleh penjaja kue yang setiap hari mampir, yang bahkan usianya jauh lebih tua daripadanya. Tapi, jangan sekali-kali tanya berapa usia Eyang Putri, jika tak ingin duduk berlama-lama di beranda mendengarkan kisah biografinya dari bayi hingga delapan puluh tiga. Eyang Putri memiliki halaman rumah yang sangat luas. Ditumbuhi oleh beragam tanaman yang didominasi bebungaan. Setiap pagi dan sore hari, Eyang Putri selalu menyirami tanamannya dengan penuh kasih. Kadang kala, ia seperti berdialog dengan bunga sepatu, pohon cemara, atau bunga-bunga anggrek yang bermacam-macam jenis itu. Ketika ia lupa menyirami tanamannya, ia akan sangat nampak bersalah. Seharian ia akan merutuki ingatannya yang kian lama kian kikis. Jika kau tak ingin menjadi sasaran curahan hatinya, yang tentu saja akan memakan waktu lebih kurang dua jam, lebih baik jangan menampakkan diri padanya.
 Rumah yang teramat luas dengan arsitektur Belanda itu dihuni oleh Eyang Putri, ratusan nyamuk, berpuluh-puluh cicak, dan belasan tikus-tikus. Ramai sekali. Apalagi ketika musim hujan tiba, maka akan kau dengar nyanyian katak dan tokek yang bersahut-sahutan, seiring dengan lantunan piringan hitam Eyang Putri. Jangan kau kira Eyang Putri adalah perempuan menyedihkan yang tak pernah menikah, tak pernah melahirkan bibit-bibit kecil dari rahimnya. Dari foto-foto yang digantung di ruang tamu hingga ruang keluarga, akan kau temui kisah hidup Eyang Putri dari menikah, hingga Ais, Dewi, dan Bram mengaruniai Eyang Putri cucu-cucu yang menggemaskan. Suami Eyang Putri sudah lama meninggal. Saat itu, meninggalkan Ais yang akan segera masuk SMA, serta dua adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Bahkan Bram saat itu masih disusui.
  Di antara rumah-rumah Belanda lain di jalan itu, rumah Eyang adalah satu-satunya rumah yang tak tersentuh oleh investor atau pengusaha cafe. Rumah-rumah lain di jalan itu telah berubah menjadi mesin uang bagi pemilik barunya. Ya, rata-rata pemilik asli rumah-rumah di salah satu jalan bersejarah itu memilih menjual rumahnya karena tergiur dengan harga yang ditawarkan investor. Rumah Eyang seringkali ditawar oleh investor dengan harga tinggi. Kalau sudah begitu, Eyang mengeluarkan jurusnya. Tidak mendengar.
Ah, ya. Satu lagi yang perlu kau ketahui tentang Eyang Putri. Jika kau berbicara padanya tanpa volume yang keras, maka jangan harap Eyang Puteri akan mendengarmu. Bahkan ada guyonan oleh  tukang kebun yang setiap Senin dipekerjakan oleh Eyang Puteri,
“Bahkan, ada bom pun, jika tidak meledak dekat telinganya, Eyang tak akan menoleh,”
***
“Ma? Mau makan?” tanya Dewi yang sedang berkunjung pada Eyang Putri.
Eyang Putri hanya diam, masih memerhatikan televisi yang dipasang dengan suara keras-keras.
“Ma?” Dewi bertanya sekali lagi.
Eyang Putri masih bergeming.
“Ma!”
Kali ini Eyang Putri menoleh.
“Ada apa?” tanya Eyang Putri.
Dewi yang sudah terlanjur kesal menyodorkan mangkuk berisi bubur dan sup ayam sambil menggerutu pelan, “Susah punya ibu tuli!”
Eyang Putri yang memang tak bisa mendengar jelas itu tak peduli dengan gerutu Dewi. Ia makan dengan santai seperti tak mendengar apa-apa.
Setelah mengerjakan tugasnya, memastikan Eyang Putri makan dengan baik tanpa adegan berantakan, Dewi segera pamit pulang.
Eyang Putri tak mengantar ke depan, karena Dewi tak mengulang kata-katanya. Karena Eyang bahkan tak tahu bahwa Dewi pulang.
Setiap hari, tepatnya jam sepuluh, dan jam tiga sore, Dewi atau terkadang utusan Dewi datang ke rumah Eyang Putri untuk memastikan Eyang Putri makan dan meminum beberapa vitamin yang akan menguatkan tulangnya. Dari ketiga anaknya, hanya Dewi yang tinggal satu kota dengannya. Meski begitu, jarak rumah Dewi dan Eyang Putri sangat jauh, harus berganti angkutan umum tiga kali.
***
Hari itu tak biasanya Dewi, Ais, dan Bram datang bersamaan ke rumah Eyang Putri. Hujan di luar. Angin bertiup sangat kencang. Daun-daun pohon jambu jatuh berguguran memenuhi halaman rumah Eyang Putri. Hari itu rumah Eyang nampak sangat ramai. Meski begitu di telinga Eyang Putri masih terdengar sepi.
“Ma, Ais bawakan klappetart kesukaan Mama,” kata Ais tepat di sebelah telinga Eyang Putri. Ais tersenyum manis. Ia mewarisi senyuman Eyang Putri, dengan lesung pipit yang tidak terlalu dalam di pipi kanan.
“Iya, sini, Mama mau mencoba,” jawab Eyang Putri.
Ais menyuruh Dewi mengambil klappetart kesukaan Eyang di meja makan.
“Mama mau Bram suapi?” tanya Bram sembari menggerakkan tangannya seperti sedang menyuapkan makanan.
Eyang menggeleng sambil tersenyum. Sedari dulu, ia selalu mengingat almarhum suaminya ketika memandang anak lelaki satu-satunya itu.
 “Ma, Ais ingin bertanya sesuatu kepada Mama,”  Ais membuka percakapan.
Eyang Putri yang tengah menikmati klappetartnya mengangguk.
“Em, begini, Ma. Mama ‘kan sudah bertahun-tahun hidup sendiri. Kami khawatir dengan Mama. Apa Mama tidak ingin tinggal dengan salah satu dari kami?” lanjut Ais.
“Ya, benar, Ma. Kami tidak ingin Mama sendirian saat hujan begini,” sahut Dewi.
Eyang Putri tersenyum.
“Tidak. Mama tidak apa-apa. Toh setiap Senin ada tukang kebun, setiap hari juga Dewi pergi kemari. Kalau hujan begini Mama tidak akan pergi ke mana-mana. Hanya di dalam rumah saja, kok,” jawab Eyang.
“Bukan begitu, Ma. Mama kan sudah tua, kami ingin berbakti,” kata Bram.
“Tidak, Bram. Kalian sudah cukup berbakti pada Mama dengan membiarkan Mama menikmati hidup Mama yang tinggal sedikit ini.
“Ah, begini, Ma. Kalau memang Mama tidak ingin tinggal bersama kami, izinkan kami untuk menukar rumah ini dengan rumah yang lebih kecil di dekat rumah salah satu dari kami. Karena rumah ini, Ma, sudah sangat tua, dan terlalu besar untuk Mama. Ais khawatir Mama terjatuh atau kenapa-kenapa. Rumah ini juga jauh dari tetangga kan, Ma? Di dekat rumah Dewi ada perumahan bagus, Ma,”
“Pindah? Tidak akan. Mama tidak akan pernah pindah dari rumah ini. Rumah ini yang membesarkan kalian bertiga. Rumah ini pula saksi kisah hidup Mama dan Papa dulu. Mama akan pergi dari rumah ini hanya karena satu alasan: kematian,”
Mendadak raut wajah Ais, Bram, dan Dewi berubah. Mereka seperti kehilangan harapan akan sesuatu.
***
Ini tahun ketiga Eyang merayakan natal sendiri, sejak ia menolak untuk pindah. Sejak ia menolak untuk meninggalkan rumah dan bunga-bunganya. Setelah Pak Pos mengantar ucapan natal dari ketiga anaknya, Eyang duduk di beranda, bercakap dengan bunga-bunga.
“Aku menunggu mereka kembali ke rumah ini. Bukan hanya dengan bentuk kartu ucapan natal. Bukan pula hanya untuk membujukku menjual rumah ini. Aku ingin mereka kembali, sebagaimana mereka pernah merindukan untuk pulang ke rumah,”
Sudut matanya basah.
***
Hari itu rumah Eyang ramai, semua anak cucunya berkumpul, sebagaimana yang Eyang harapkan bertahun–tahun. Semua berpakaian rapi untuk merayakan kepindahan Eyang, begitu pula dengan Eyang, anak–anaknya memakaikan baju terbaik untuk Eyang. Akhirnya Eyang setuju untuk pindah, setelah kartu pos keempat yang ia terima dari anak-anaknya. Semua tampak lega. Perpisahan itu berlangsung dengan sederhana. Perpisahan Eyang dengan rumahnya. Perpisahan Eyang dengan bunga-bunganya. Perpisahan Eyang dengan kesendiriannya. Perpisahan Eyang dengan mereka semua.




Penulis adalah mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Negeri Malang


Penulis: Raisa Izzhaty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.