![]() |
| Ilustrasi oleh Google |
Orang-orang memanggilnya Eyang
Putri. Selain karena usianya yang senja, Eyang Putri memang ingin dipanggil
Eyang Putri oleh siapa saja. Tak terkecuali oleh penjaja kue yang setiap hari
mampir, yang bahkan usianya jauh lebih tua daripadanya. Tapi, jangan
sekali-kali tanya berapa usia Eyang Putri, jika tak ingin duduk berlama-lama di
beranda mendengarkan kisah biografinya dari bayi hingga delapan puluh tiga. Eyang
Putri memiliki halaman rumah yang sangat luas. Ditumbuhi oleh beragam tanaman
yang didominasi bebungaan. Setiap pagi dan sore hari, Eyang Putri selalu
menyirami tanamannya dengan penuh kasih. Kadang kala, ia seperti berdialog
dengan bunga sepatu, pohon cemara, atau bunga-bunga anggrek yang bermacam-macam
jenis itu. Ketika ia lupa menyirami tanamannya, ia akan sangat nampak bersalah.
Seharian ia akan merutuki ingatannya yang kian lama kian kikis. Jika kau tak
ingin menjadi sasaran curahan hatinya, yang tentu saja akan memakan waktu lebih
kurang dua jam, lebih baik jangan menampakkan diri padanya.
Rumah yang teramat luas dengan
arsitektur Belanda itu dihuni oleh Eyang Putri, ratusan nyamuk, berpuluh-puluh
cicak, dan belasan tikus-tikus. Ramai sekali. Apalagi ketika musim hujan tiba,
maka akan kau dengar nyanyian katak dan tokek yang bersahut-sahutan, seiring
dengan lantunan piringan hitam Eyang Putri. Jangan kau kira Eyang Putri adalah
perempuan menyedihkan yang tak pernah menikah, tak pernah melahirkan
bibit-bibit kecil dari rahimnya. Dari foto-foto yang digantung di ruang tamu
hingga ruang keluarga, akan kau temui kisah hidup Eyang Putri dari menikah,
hingga Ais, Dewi, dan Bram mengaruniai Eyang Putri cucu-cucu yang menggemaskan.
Suami Eyang Putri sudah lama meninggal. Saat itu, meninggalkan Ais yang akan
segera masuk SMA, serta dua adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Bahkan Bram
saat itu masih disusui.
Di antara rumah-rumah Belanda lain di jalan itu, rumah
Eyang adalah satu-satunya rumah yang tak tersentuh oleh investor atau pengusaha
cafe. Rumah-rumah lain di jalan itu telah berubah menjadi mesin uang bagi
pemilik barunya. Ya, rata-rata pemilik asli rumah-rumah di salah satu jalan
bersejarah itu memilih menjual rumahnya karena tergiur dengan harga yang
ditawarkan investor. Rumah Eyang seringkali ditawar oleh investor dengan harga
tinggi. Kalau sudah begitu, Eyang mengeluarkan jurusnya. Tidak mendengar.
Ah,
ya. Satu lagi yang perlu kau ketahui tentang Eyang Putri. Jika kau berbicara
padanya tanpa volume yang keras, maka jangan harap Eyang Puteri akan
mendengarmu. Bahkan ada guyonan oleh
tukang kebun yang setiap Senin dipekerjakan oleh Eyang Puteri,
“Bahkan,
ada bom pun, jika tidak meledak dekat telinganya, Eyang tak akan menoleh,”
***
“Ma? Mau makan?” tanya Dewi yang
sedang berkunjung pada Eyang Putri.
Eyang
Putri hanya diam, masih memerhatikan televisi yang dipasang dengan suara
keras-keras.
“Ma?”
Dewi bertanya sekali lagi.
Eyang
Putri masih bergeming.
“Ma!”
Kali
ini Eyang Putri menoleh.
“Ada
apa?” tanya Eyang Putri.
Dewi
yang sudah terlanjur kesal menyodorkan mangkuk berisi bubur dan sup ayam sambil
menggerutu pelan, “Susah punya ibu tuli!”
Eyang
Putri yang memang tak bisa mendengar jelas itu tak peduli dengan gerutu Dewi.
Ia makan dengan santai seperti tak mendengar apa-apa.
Setelah
mengerjakan tugasnya, memastikan Eyang Putri makan dengan baik tanpa adegan
berantakan, Dewi segera pamit pulang.
Eyang
Putri tak mengantar ke depan, karena Dewi tak mengulang kata-katanya. Karena
Eyang bahkan tak tahu bahwa Dewi pulang.
Setiap
hari, tepatnya jam sepuluh, dan jam tiga sore, Dewi atau terkadang utusan Dewi
datang ke rumah Eyang Putri untuk memastikan Eyang Putri makan dan meminum
beberapa vitamin yang akan menguatkan tulangnya. Dari ketiga anaknya, hanya
Dewi yang tinggal satu kota dengannya. Meski begitu, jarak rumah Dewi dan Eyang
Putri sangat jauh, harus berganti angkutan umum tiga kali.
***
Hari itu tak biasanya Dewi, Ais, dan Bram datang bersamaan ke rumah Eyang Putri. Hujan di
luar. Angin bertiup sangat kencang. Daun-daun pohon jambu jatuh berguguran
memenuhi halaman rumah Eyang Putri. Hari itu rumah Eyang nampak sangat ramai.
Meski begitu di telinga Eyang Putri masih terdengar sepi.
“Ma,
Ais bawakan klappetart kesukaan
Mama,” kata Ais tepat di sebelah telinga Eyang Putri. Ais tersenyum manis. Ia
mewarisi senyuman Eyang Putri, dengan lesung pipit yang tidak terlalu dalam di
pipi kanan.
“Iya,
sini, Mama mau mencoba,” jawab Eyang Putri.
Ais
menyuruh Dewi mengambil klappetart kesukaan
Eyang di meja makan.
“Mama
mau Bram suapi?” tanya Bram sembari menggerakkan tangannya seperti sedang
menyuapkan makanan.
Eyang
menggeleng sambil tersenyum. Sedari dulu, ia selalu mengingat almarhum suaminya
ketika memandang anak lelaki satu-satunya itu.
“Ma, Ais ingin bertanya sesuatu kepada
Mama,” Ais membuka percakapan.
Eyang
Putri yang tengah menikmati klappetartnya
mengangguk.
“Em,
begini, Ma. Mama ‘kan sudah bertahun-tahun hidup sendiri. Kami khawatir dengan
Mama. Apa Mama tidak ingin tinggal dengan salah satu dari kami?” lanjut Ais.
“Ya,
benar, Ma. Kami tidak ingin Mama sendirian saat hujan begini,” sahut Dewi.
Eyang
Putri tersenyum.
“Tidak.
Mama tidak apa-apa. Toh setiap Senin ada tukang kebun, setiap hari juga Dewi
pergi kemari. Kalau hujan begini Mama tidak akan pergi ke mana-mana. Hanya di dalam rumah saja, kok,” jawab
Eyang.
“Bukan
begitu, Ma. Mama ‘kan sudah tua, kami ingin berbakti,” kata Bram.
“Tidak,
Bram. Kalian sudah cukup berbakti pada Mama dengan membiarkan Mama menikmati
hidup Mama yang tinggal sedikit ini.”
“Ah,
begini, Ma. Kalau memang Mama tidak ingin tinggal bersama kami, izinkan kami untuk menukar rumah ini dengan rumah
yang lebih kecil di dekat rumah salah satu dari kami. Karena rumah ini, Ma,
sudah sangat tua, dan terlalu besar untuk Mama. Ais khawatir Mama terjatuh atau
kenapa-kenapa. Rumah ini juga jauh dari tetangga kan, Ma? Di dekat rumah Dewi
ada perumahan bagus, Ma,”
“Pindah?
Tidak akan. Mama tidak akan pernah pindah dari rumah ini. Rumah ini yang
membesarkan kalian bertiga. Rumah ini pula saksi kisah hidup Mama dan Papa
dulu. Mama akan pergi dari rumah ini hanya karena satu alasan: kematian,”
Mendadak
raut wajah Ais, Bram, dan Dewi berubah. Mereka seperti kehilangan harapan akan
sesuatu.
***
Ini
tahun ketiga Eyang merayakan natal sendiri, sejak ia menolak untuk pindah.
Sejak ia menolak untuk meninggalkan rumah dan bunga-bunganya. Setelah Pak Pos
mengantar ucapan natal dari ketiga anaknya, Eyang duduk di beranda, bercakap
dengan bunga-bunga.
“Aku
menunggu mereka kembali ke rumah ini. Bukan hanya dengan bentuk kartu ucapan
natal. Bukan pula hanya untuk membujukku menjual rumah ini. Aku ingin mereka
kembali, sebagaimana mereka pernah merindukan untuk pulang ke rumah,”
Sudut
matanya basah.
***
Hari
itu rumah Eyang ramai, semua anak cucunya berkumpul, sebagaimana yang Eyang harapkan bertahun–tahun. Semua berpakaian rapi
untuk merayakan kepindahan Eyang, begitu pula dengan Eyang, anak–anaknya
memakaikan baju terbaik untuk Eyang. Akhirnya Eyang setuju
untuk pindah, setelah kartu pos keempat yang ia terima dari anak-anaknya. Semua
tampak lega. Perpisahan itu berlangsung dengan sederhana. Perpisahan Eyang
dengan rumahnya. Perpisahan Eyang dengan bunga-bunganya. Perpisahan Eyang
dengan kesendiriannya. Perpisahan Eyang dengan mereka semua.
Penulis adalah mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang
Penulis: Raisa Izzhaty

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.