![]() |
| Ilustrasi oleh Google |
Malam begitu sunyi. Udara dingin
masuk melalui celah-celah tembok yang berbahan bambu, ditambah bau menyengat yang
sepertinya sudah memenuhi kamarku, membuatku terjaga. Entah siapa yang masih
bermain-main larut malam seperti ini. Aku pun tak tahu permainan macam apa itu.
Hal ini selalu terjadi setiap kali menjelang malam jumat. Mungkin karena mitos
tentang malam jumat yang katanya, pada malam jumat itu banyak setan yang
berkeliaran. Namun aku tak mengerti apa tujuannya, untuk melindungi diri,
mencelakai orang lain atau justru untuk memanggil setan-setan itu. Yang jelas
bagiku, itu sangat tidak masuk akal dan sangat mengganggu tidur nyenyakku.
Semenjak ibu tiada, aku berusaha
untuk beradaptasi dengan keadaan ini sendiri. Dulu aku selalu merengek sampai
ibu datang ke kamarku dan menenangkanku. Namun tidak mungkin lagi aku merengek pada
ayah, karena aku tahu, ayah pasti lelah setelah bekerja di sawah seharian.
*
Fajar mulai menghilang, suara kokok ayam pun
sudah tak terdengar. Seorang gadis berkerudung putih mencari-cari sesuatu dekat
pohon beringin di belakang rumahnya yang berjarak tak sampai 10 meter itu. Ternyata
ini yang menyebabkan bau menyengat itu. Dia membawa sebuah tungku utuh yang di atasnya terdapat sesuatu yang sudah menjadi arang.
Dia berlari mencari ayahnya. “Ayah apa ini?”
Ayah gadis itu masih sibuk menyiapkan
makanan di dapur. Seketika itu dia duduk jongkok di depan gadis itu. “iki
menyan lan dupa jenenge,”1 ayah membelai rambut anak semata
wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.
“Siapa ya Ayah, yang malam-malam bermain ini di bawah pohon? Baunya sangat tidak enak.” Gadis itu berjalan berbelok arah sambil menggerutu. Raut wajahnya
terlihat sekali jika dia sangat tidak menyukai benda itu. Ayah hanya tersenyum melihat
tingkah anaknya yang sangat lugu itu. Dan menganggapnya hanya sebuah gurauan.
*
Hari ini malam jumat, aku akan menemukan siapa
pengganggu tidurku. Aku sudah bersiap dengan sebuah sapu di tangan. Aku
tajamkan penglihatanku di balik jendela yang sengaja tidak aku tutup rapat. Aku
pastikan dia akan tertangkap olehku dan ayahku akan mengadilinya, huh.
Kakiku mulai kesemutan berdiri sedari tadi. Namun dia tidak menampakkan batang
hidungnya sama sekali.
Beberapa saat kemudian, terdengar
langkah kaki semakin mendekat. Aku lebih memfokuskan diri. Aku perhatikan
dengan seksama wajahnya yang terbalut kegelapan. Hanya remang cahaya lampu lima
watt di belakang rumah yang membantuku mempertajam penglihatanku. Aku mengucek
mataku. Aku coba melihatnya dengan saksama lagi. Ternyata. “Sadam!” Aku
membuka jendela kamarku lebar-lebar, seraya berteriak memanggil anak Ibu Hartini
tetangga sebelah rumah.
“Ternyata
kamu yang main-main kayak gituan malam-malam? Awas ya kalau kamu tidak berhenti,
aku akan mengadukanmu pada Ayah.”
Sepertinya Sadam pura-pura tidak mendengarku atau tidak mengerti maksudku, muka
tololnya terlihat jelas olehku. Namun aku tak peduli, seketika itu tanpa
menunggu jawabannya, aku menutup jendela.
Langkah kakiku kian cepat. Kuhampiri
Sadam yang kerap kali jahil kepadaku. “Untuk apa kamu main-main dengan itu?”
Kupukul pundak kirinya sehingga dia berbalik arah.
“Ini bukan main-main tahu. Ini bisa
untuk melancarkan rezeki,” Sadam berdiri di hadapanku dengan membawa tungku yang mirip dengan genting yang aku bawa
kemarin.
“Yang Maha Pemberi Rezeki itu hanya
Allah, bukan pohon, dupa, apalagi menyan. Awas ya aku adukan kamu ke ayah. Agar
kamu diberitahu bahwa ini namanya musyrik.”
“Ha?” Tanpa pikir panjang lagi aku
kembali ke tempat peraduanku. Besok kamu pasti menyesal.
Esoknya, sebelum ayah berangkat ke sawah, aku
sudah mengadukan perbuatan Sadam. Sambil tersenyum ayah menjawab, “Masa...”
Ayah mulai menggodaku dengan nada bicaranya yang tidak seperti biasanya. “Mungkin
dia sedang bermain suatu permainan yang menarik.”
Bermain kok rutin setiap malam
jumat, “Kata guru ngajiku itu kan
dilarang agama, Ayah. Ibu dulu
juga bilang bahwa itu musyrik.” Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Dia segera
mengambil bekal di meja dapur dan berangkat tanpa mengucapkan apapun, hanya
senyum yang menggantung di bibirnya. Senyum yang tidak bahagia.
*
Sunyi. Malam mulai larut, namun aku
tetap terjaga. Hari ini malam jumat, aku tidak tahu apakah ayah telah menegur
Sadam atau tidak, aku masih belum mencium bau yang sangat aku benci itu. Entah
mengapa perasaanku menjadi tidak tenang. Aku tarik selimut tipisku dan mencoba
memejamkan mata. Berharap Allah memberikan nikmat tidur padaku. Aku harap bau
tidak sedap itu enyah untuk malam ini dan seterusnya.
Pintu mimpi masih tertutup untukku.
Tiba-tiba telingaku menangkap suara langkah kaki. Pasti Sadam. Darahku
terasa naik seluruhnya ke kepala. Aku mengambil kelereng dan ketapel yang
menggantung di tembok bambu tepat di sebelah jendela. Akan aku pastikan
kelereng ini melesat tepat di kepala Sadam. Meski aku seorang perempuan, ayah
pernah mengajariku memakai ketapel untuk bermain. Sekarang sudah jarang aku
menggunakannya.
Perlahan dan dengan sangat hati-hati
aku buka jendela kamarku. Aku siapkan tiga kelereng. Kelereng pertama sudah
siap untuk aku arahkan pada sasaran. Aku tarik tali ketapel itu sekuat tenaga tepat
di depan wajahku, aku pejamkan salah satu mataku untuk memastikan kelereng ini
tepat sasaran. Perlahan aku arahkan ketapel itu pada... Ayah. Seketika itu kelereng itu melesat
tidak tentu arah. Benarkah itu Ayah?
Kulihat
ayah berkomat-kamit sambil memejamkan matanya. Sepertinya kelereng itu menabrak
benda yang keras. Suarnya membuat ayah
berhenti. Ia memandangku yang sedang berdiri tegap dan berkaca-kaca. Aku tak
percaya. Aku seolah melihat bayangan ibu menangis meronta-ronta. Tak terasa
air mata telah jatuh dan mendarat di pipiku. Ayah melanjutkan ritualnya, ia tak
menghiraukanku. Seketika itu aku tutup jendela kayu itu rapat-rapat.
*
Hembusan angin fajar menerbangkan kerudung gadis itu. Dia ingat waktu
pertama kali ibunya memakaikan kerudung itu. “Jangan pernah melepaskannya,” Itu
adalah pesan ibunya dahulu. Namun sungguh sangat miris, dua hari setelah itu,
ibunya meninggalkannya untuk selamanya karena suatu penyakit yang tidak
diketahui apa namanya, orang-orang mengatakan bahwa ibunya disantet2. Dia duduk di tepi sawah yang
menghadap hamparan tanaman padi yang sebenarnya berwarna hijau. Namun matahari
belum datang untuk memperjelasnya, kini padi itu masih terlihat berwarna hitam.
Ibu, apa Ibu tahu perbuatan Ayah? Hatinya bergejolak dalam sepi. Dia hanya menatap kekosongan. Aku
harus menerimanya kah, Ayah? Dia
memperhatikan sekelilingnya. Pohon kelapa itu. Hitam. Namun tetap saja itu
adalah pohon kelapa. Sama sepertiku melihat ayah. Aku melihatmu dalam
bayang siluet. Bagaimanapun perilaku dan keadaanmu, engkau tetap Ayahku. Tangisnya meledak. Ya dia tetap Ayahku.
*
Maafkan Ayah. Seorang lelaki paruh
baya berdiri dari kejauhan. Ayah telah mengecewakanmu. Namun itu aku lakukan
untukmu. Lelaki itu pun tak berkutik dari tempatnya. Cukup ibumu saja yang pergi. Suatu hari kau akan mengerti. Tentang semua
sandiwara ini. Sandiwara untuk melindungimu dari mereka.
*
1. Ini menyan
dan dupa namanya
2. Sejenis ilmu
sihir dalam kepercayaan orang Jawa
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang
Penulis: Wiki Dwi Ningrum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.