Tidak ada yang kuharapkan lagi dari cintamu yang
terlalu banyak ‘tetapi’ itu; membuat yang kau cintai merasa ragu dan bahkan tak
lagi punya tekad untuk menunggumu. Salahmu adalah merasa baik-baik saja ketika
lupa dan tak memiliki daya upaya untuk coba memberikan yang terbaik baginya.
Maka, bukan salah negerimu jika kelak tak bisa memberi apa-apa saja yang kau
harapkan sebab kau pun hanya mencintainya ala kadar.
***
Aku merutuki
mengapa tanggal 14 Februari harus terulang lagi setiap tahun. Di hadapanku,
banyak orang berlalu lalang membawa kembang atau coklat atau bingkisan kecil
berpita aneka warna sembari tersenyum senang dan menggandeng mesra orang yang
mereka sayang. Namun, aku di
sini
sendirian, merenung, memaki, mengenang dengan berat hati–dan tetap tak ada yang
peduli dengan apa yang akan kulakukan hari ini.
Bagiku, tidak
pernah ada cinta kasih yang abadi selain sayangmu pada ibu, entah ibu kandung
yang pada rahimnya engkau menyerap sari makanan dan meringkuk hangat selama
sembilan bulan, atau ibu pertiwi yang tanahnya kau injak, udaranya kau hirup,
alamnya kau nikmati tanpa menuntut sepeserpun dari pundi rupiah yang ada di
kantongmu.
Maka, kukira hanya
dusta yang kudengar ketika seorang lelaki tiba-tiba datang dengan sebuket
kembang mawar merah di tangannya kemudian berkata padaku, “Maafkan bila aku
terlambat datang padamu. Ketiadaanku bukan berarti tak mencintai ataupun
mengingatmu. Pada ketiadaanku, aku yakin kau akan selalu sabar menanti
datangku.”
Gombal. Omong
kosong. Tong kosong nyaring bunyinya. Kalimat sampah. Kumaki lelaki itu dalam
hati. Sebab aku tidak terlahir dengan kemampuan untuk membaca pikiran
orang-orang, maka aku berprinsip bahwa cinta harus berwujud, terdengar, dan
kelihatan. Bagaimana aku tahu bahwa dia mencintaiku, jika datang padaku pun
hanya ketika ia ada perlu? Lalu, bagaimana mungkin itu dikatakan cinta jika
kemudian di belakang lelaki itu, hadir seorang perempuan dengan gaun warna merah
jambu yang anggun dan menenteng tas dengan warna senada yang kemudian merebut
kembang yang ia bawa?
Sejak semula aku
sudah tahu, kembang itu bukanlah untukku.
“Kembang ini
untukku kan, Zal?”
Si lelaki nampak
ragu sejenak sebelum menjawab. Aku tahu, cintanya sudah tidak lagi semurni
dulu. Sedang hatinya telah lama terbagi. “Bukan, Alia, kembang itu bukan
untukmu.”
“Ah, Zal, jangan
buat lelucon macam begini. Kau tahu kan, pada 14 Februari, orang-orang akan
membeli kembang untuk yang mereka cintai? Jadi, aku yakin bahwa kembang ini
akan lebih bermakna bila jatuh di tanganku.”
“Alia... tolong
jangan begini,” ratap si lelaki sambil memandang haru kepada perempuannya.
Alia yang
semakin gemas dengan tingkah Alfrizal lalu berkata dengan nada tidak sabaran,
“Lelaki bodoh mana yang membawa kembang pada 14 Februari ke kuburan begini
kalau bukan kamu, hah?”
Alfrizal
menghela nafas panjang sebelum kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Sepelan
mungkin ia berusaha memberi pengertian pada perempuan yang jelas dicintainya itu.
“Aku akan belikan kembang yang lain untukmu nanti, Alia. Setelah kita pulang
dari sini. Sekarang, biarkan aku meninggalkan kembang itu di sini.”
Alia mendengus
kesal sekali lagi. Paras ayunya mulai nampak beringas, seolah sedang berhadapan
dengan orang tak waras yang ingin sekali segera ia tampar agar tersadar.
“Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu sendiri. Mulai saat ini kau
tak usah merisaukanku sama sekali!”
***
“Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu
sendiri. Mulai saat ini kau tak usah merisaukanku sama sekali!”
Kalimat itu
kembali terngiang di otakku meski kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu.
Kini 14 Februari datang lagi. Semenjak kejadian itu, Alfrizal tak pernah lagi
datang menemuiku membawakan kembang mawar seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
Kini tak ada lagi yang akan mengirimiku cinta dan doa-doa, selama apapun aku
menanti. Sebab kini lelaki itu telah pergi. Jauh. Sejauh yang tak bisa
kusentuh. Sekeras apa pun
aku berusaha menginginkannya kembali, tetap saja, penantianku bakal berakhir
sia-sia.
Kini tak akan
ada lagi yang mengenang 14 Februari selain sebagai hari kasih sayang. Kini
tidak akan ada lagi laki-laki yang dengan telaten membubuti rumput liar di
sekitar pemakaman setiap 14 Februari tiba. Yang ada kini hanya pemuda-pemuda
hasil proses modernisasi yang tak sempurna. Pemuda yang hanya cinta pada
kemewahan dan dirinya sendiri. Pemuda yang merasa ringan hati melangkahkan kaki
ke kafe-kafe elit dan merasa langkahnya berat sekali untuk masuk kesini dan
menyenandungkan doa-doa pengharapan agar arwah kami tenang dalam pelukan-Nya.
Alfrizal sudah
pergi. Pemuda yang rela bertengkar dengan kekasihnya demi mengirimkan pada kami
sebuket kembang tanda cinta dan penghormatannya pada kami sudah tiada lagi.
Entah kapan akan terlahir Alfrizal-Alfrizal lain yang dengan senang hati
membaca buku sejarah, menekuni kenangan bangsanya, dan mengingat 14 Februari
sebagai hari pemberontakan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)–bukannya sebagai
hari valentine.
Pada 14 Februari
puluhan tahun silam, nyawa kami kami gadaikan. Darah kami kucurkan dengan
keikhlasan. Terbirit kami berlari sambil menyerukan Allahu Akbar ke dalam hutan ketika strategi kami terbaca dan lawan
balik menyerang. Tak ada yang tidak kami berikan untuk mencapai kemerdekaan
yang kalian nikmati sekarang. Tidak ada sebiji kacang hijau pun yang tidak kami
korbankan agar kalian bisa dengan santai mengibarkan Sang Saka. Tidak ada.
Pada akhirnya,
kami tetap harus rela dilupakan. Ikhlas untuk tidak dikenang. Ketika
modernisasi membutakan mata lelaki selain Alfrizal, kami yang tak pernah diberi
sepucuk pun kembang mawar telah pasrah, mengalah, dan berlapang dada.
Barangkali kami
memang tidak pantas menerimanya. Barangkali kekasih cantik dan tampan kalian
lebih berhak mendapatkan sanjungan dan ratusan pucuk kembang.
***
Melihatnya
mendengus kesal, aku tahu bahwa ia sudah mulai kehilangan kesabarannya
menghadapiku. Maka aku pun berencana hendak mengalah ketika ia dengan penuh
emosi berujar, “Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu sendiri. Mulai
saat ini kau tak usah merisaukanku sama sekali!”
Namun, sesudah
berkata demikian, justru ia berlari pergi; dengan pikiran kalut dan marahnya
menyeberangi jalan raya yang
begitu padat. Aku segera sadar apa yang kemungkinan akan terjadi kemudian,
ketika ia tanpa menoleh kanan dan kiri terbirit lari ke sebarang untuk menjauh
dariku.
Alia, gadis itu,
perempuan yang kucintai sebesar aku mencintai para pahlawan yang telah gugur
membela bangsaku, tak bisa kubiarkan ada dalam bahaya. Maka aku segera berlari
menyusulnya. Dengan rasa kalut dan marah yang sama banyaknya dengan yang
dirasakan Alia, aku berlari mengejar gadisku. Berkali-kali kuteriakkan namanya,
berharap ia akan menoleh ke hadapanku sembari mengucap, “Tidak apa-apa, Zal, aku
paham kenapa setiap tanggal 14 Februari kau lebih memilih membeli bunga untuk
kemudian kau tinggalkan di teras Taman Makam Pahlawan. Aku bangga kau bisa
mencintai sejarah bangsamu sebesar kau mencintai aku.”
Namun, harapan
hanya akan berakhir sebagai harapan. Bukannya kalimat itu yang kudengar terucap
dari bibir Alia, tetapi justru sebuah kalimat dengan nada bersalah yang
diucapkan dengan sesenggukan, “Innalillahi
wa inailaihi rajiun, Alfrizal.”
Setelah itu
semuanya terasa gelap gulita. Dan aku tahu, dalam hitungan detik Izrail akan
datang menyapa.
Malang, 24 Februari
2016
Dipersembahkan
kepada Sudanco Supriyadi dan seluruh anggota PETA yang dengan gagah berani
melakukan pemberontakan pada 14 Februari 1945.
Penulis: Novia Anggraini*)
*)Penulis
adalah anggota Labostra UKM Penulis UM. Bisa dihubungi lewat email
ininovianggraini@gmail.com.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.