Jumat, 04 Maret 2016

Kembang untuk PETA

Ilustrasi oleh Google

Tidak ada yang kuharapkan lagi dari cintamu yang terlalu banyak ‘tetapi’ itu; membuat yang kau cintai merasa ragu dan bahkan tak lagi punya tekad untuk menunggumu. Salahmu adalah merasa baik-baik saja ketika lupa dan tak memiliki daya upaya untuk coba memberikan yang terbaik baginya. Maka, bukan salah negerimu jika kelak tak bisa memberi apa-apa saja yang kau harapkan sebab kau pun hanya mencintainya ala kadar.
***
Aku merutuki mengapa tanggal 14 Februari harus terulang lagi setiap tahun. Di hadapanku, banyak orang berlalu lalang membawa kembang atau coklat atau bingkisan kecil berpita aneka warna sembari tersenyum senang dan menggandeng mesra orang yang mereka sayang. Namun, aku di sini sendirian, merenung, memaki, mengenang dengan berat hati–dan tetap tak ada yang peduli dengan apa yang akan kulakukan hari ini.
Bagiku, tidak pernah ada cinta kasih yang abadi selain sayangmu pada ibu, entah ibu kandung yang pada rahimnya engkau menyerap sari makanan dan meringkuk hangat selama sembilan bulan, atau ibu pertiwi yang tanahnya kau injak, udaranya kau hirup, alamnya kau nikmati tanpa menuntut sepeserpun dari pundi rupiah yang ada di kantongmu.
Maka, kukira hanya dusta yang kudengar ketika seorang lelaki tiba-tiba datang dengan sebuket kembang mawar merah di tangannya kemudian berkata padaku, “Maafkan bila aku terlambat datang padamu. Ketiadaanku bukan berarti tak mencintai ataupun mengingatmu. Pada ketiadaanku, aku yakin kau akan selalu sabar menanti datangku.”
Gombal. Omong kosong. Tong kosong nyaring bunyinya. Kalimat sampah. Kumaki lelaki itu dalam hati. Sebab aku tidak terlahir dengan kemampuan untuk membaca pikiran orang-orang, maka aku berprinsip bahwa cinta harus berwujud, terdengar, dan kelihatan. Bagaimana aku tahu bahwa dia mencintaiku, jika datang padaku pun hanya ketika ia ada perlu? Lalu, bagaimana mungkin itu dikatakan cinta jika kemudian di belakang lelaki itu, hadir seorang perempuan dengan gaun warna merah jambu yang anggun dan menenteng tas dengan warna senada yang kemudian merebut kembang yang ia bawa?
Sejak semula aku sudah tahu, kembang itu bukanlah untukku.
“Kembang ini untukku kan, Zal?”
Si lelaki nampak ragu sejenak sebelum menjawab. Aku tahu, cintanya sudah tidak lagi semurni dulu. Sedang hatinya telah lama terbagi. “Bukan, Alia, kembang itu bukan untukmu.”
“Ah, Zal, jangan buat lelucon macam begini. Kau tahu kan, pada 14 Februari, orang-orang akan membeli kembang untuk yang mereka cintai? Jadi, aku yakin bahwa kembang ini akan lebih bermakna bila jatuh di tanganku.”
“Alia... tolong jangan begini,” ratap si lelaki sambil memandang haru kepada perempuannya.
Alia yang semakin gemas dengan tingkah Alfrizal lalu berkata dengan nada tidak sabaran, “Lelaki bodoh mana yang membawa kembang pada 14 Februari ke kuburan begini kalau bukan kamu, hah?”
Alfrizal menghela nafas panjang sebelum kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Sepelan mungkin ia berusaha memberi pengertian pada perempuan yang jelas dicintainya itu. “Aku akan belikan kembang yang lain untukmu nanti, Alia. Setelah kita pulang dari sini. Sekarang, biarkan aku meninggalkan kembang itu di sini.”
Alia mendengus kesal sekali lagi. Paras ayunya mulai nampak beringas, seolah sedang berhadapan dengan orang tak waras yang ingin sekali segera ia tampar agar tersadar. “Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu sendiri. Mulai saat ini kau tak usah merisaukanku sama sekali!”
***
“Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu sendiri. Mulai saat ini kau tak usah merisaukanku sama sekali!”
Kalimat itu kembali terngiang di otakku meski kejadian itu sudah berlalu setahun yang lalu. Kini 14 Februari datang lagi. Semenjak kejadian itu, Alfrizal tak pernah lagi datang menemuiku membawakan kembang mawar seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Kini tak ada lagi yang akan mengirimiku cinta dan doa-doa, selama apapun aku menanti. Sebab kini lelaki itu telah pergi. Jauh. Sejauh yang tak bisa kusentuh. Sekeras apa pun aku berusaha menginginkannya kembali, tetap saja, penantianku bakal berakhir sia-sia.
Kini tak akan ada lagi yang mengenang 14 Februari selain sebagai hari kasih sayang. Kini tidak akan ada lagi laki-laki yang dengan telaten membubuti rumput liar di sekitar pemakaman setiap 14 Februari tiba. Yang ada kini hanya pemuda-pemuda hasil proses modernisasi yang tak sempurna. Pemuda yang hanya cinta pada kemewahan dan dirinya sendiri. Pemuda yang merasa ringan hati melangkahkan kaki ke kafe-kafe elit dan merasa langkahnya berat sekali untuk masuk kesini dan menyenandungkan doa-doa pengharapan agar arwah kami tenang dalam pelukan-Nya.
Alfrizal sudah pergi. Pemuda yang rela bertengkar dengan kekasihnya demi mengirimkan pada kami sebuket kembang tanda cinta dan penghormatannya pada kami sudah tiada lagi. Entah kapan akan terlahir Alfrizal-Alfrizal lain yang dengan senang hati membaca buku sejarah, menekuni kenangan bangsanya, dan mengingat 14 Februari sebagai hari pemberontakan Pasukan Pembela Tanah Air (PETA)–bukannya sebagai hari valentine.
Pada 14 Februari puluhan tahun silam, nyawa kami kami gadaikan. Darah kami kucurkan dengan keikhlasan. Terbirit kami berlari sambil menyerukan Allahu Akbar ke dalam hutan ketika strategi kami terbaca dan lawan balik menyerang. Tak ada yang tidak kami berikan untuk mencapai kemerdekaan yang kalian nikmati sekarang. Tidak ada sebiji kacang hijau pun yang tidak kami korbankan agar kalian bisa dengan santai mengibarkan Sang Saka. Tidak ada.
Pada akhirnya, kami tetap harus rela dilupakan. Ikhlas untuk tidak dikenang. Ketika modernisasi membutakan mata lelaki selain Alfrizal, kami yang tak pernah diberi sepucuk pun kembang mawar telah pasrah, mengalah, dan berlapang dada.
Barangkali kami memang tidak pantas menerimanya. Barangkali kekasih cantik dan tampan kalian lebih berhak mendapatkan sanjungan dan ratusan pucuk kembang.
***
Melihatnya mendengus kesal, aku tahu bahwa ia sudah mulai kehilangan kesabarannya menghadapiku. Maka aku pun berencana hendak mengalah ketika ia dengan penuh emosi berujar, “Sudah, Zal, cukup! Aku bisa membeli kembang itu sendiri. Mulai saat ini kau tak usah merisaukanku sama sekali!”
Namun, sesudah berkata demikian, justru ia berlari pergi; dengan pikiran kalut dan marahnya menyeberangi jalan raya yang begitu padat. Aku segera sadar apa yang kemungkinan akan terjadi kemudian, ketika ia tanpa menoleh kanan dan kiri terbirit lari ke sebarang untuk menjauh dariku.
Alia, gadis itu, perempuan yang kucintai sebesar aku mencintai para pahlawan yang telah gugur membela bangsaku, tak bisa kubiarkan ada dalam bahaya. Maka aku segera berlari menyusulnya. Dengan rasa kalut dan marah yang sama banyaknya dengan yang dirasakan Alia, aku berlari mengejar gadisku. Berkali-kali kuteriakkan namanya, berharap ia akan menoleh ke hadapanku sembari mengucap, “Tidak apa-apa, Zal, aku paham kenapa setiap tanggal 14 Februari kau lebih memilih membeli bunga untuk kemudian kau tinggalkan di teras Taman Makam Pahlawan. Aku bangga kau bisa mencintai sejarah bangsamu sebesar kau mencintai aku.”
Namun, harapan hanya akan berakhir sebagai harapan. Bukannya kalimat itu yang kudengar terucap dari bibir Alia, tetapi justru sebuah kalimat dengan nada bersalah yang diucapkan dengan sesenggukan, “Innalillahi wa inailaihi rajiun, Alfrizal.”
Setelah itu semuanya terasa gelap gulita. Dan aku tahu, dalam hitungan detik Izrail akan datang menyapa.


Malang, 24 Februari 2016


Dipersembahkan kepada Sudanco Supriyadi dan seluruh anggota PETA yang dengan gagah berani melakukan pemberontakan pada 14 Februari 1945.




Penulis: Novia Anggraini*)



*)Penulis adalah anggota Labostra UKM Penulis UM. Bisa dihubungi lewat email ininovianggraini@gmail.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.