Jumat, 19 Februari 2016

Titik Jenuh 2

Ilustrasi oleh Belantara Sekar

Barisan ngilu nampak berkumpul di serambi otak
Sekadar menawarkan kopi dan berbicara kepahitan
Memanggil camar camar haus daging,
kerap kali berkeliling di atas kepala
Sudah tahukah apa yang mereka incar?
Keputusan kosong yang melepas daging jemuh seperti balon dengan karbitnya
Melayang, di cucuk camar itu dan meleltus
Berhamburan dalam penat dan kebingungan

Hardik-hardiklah otak muda pada jiwa pembelot
Yang memilih tidur di ranjang empuk
daripada menahan kebebasan di ruangan tekstil pengap penuh mayat hidup
mana yang lebih pantas?
Biarlah omelan ibu atau pengawas pabrik yang tentukan

Masih dengan jiwa?
Rentahnya itu masih muda, balitapun sudah berjiwa tua
Dewasa takkan bisa mengambil banyak dari kehidupan
Karena jiwanya sudah mati oleh rutinitas dan nafsu
Ketika umurnya 17 tahun tampangnya rupawan dan sedap dipandang, tapi jiwanya?
Seperti kecepatan cahaya,melesat menembus kekosongan 40 tahun tuanya.
Jika ada yang masih menggunakan jiwa di masa mudanya,

maka lebih baik yang diajak diskusi adalah manula.





Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Universitas Negeri Malang




Penulis:Ferry Yuli Rakhmanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.