| Ilustrasi oleh Belantara Sekar |
Barisan ngilu nampak berkumpul di serambi otak
Sekadar
menawarkan kopi dan berbicara kepahitan
Memanggil
camar camar haus daging,
kerap kali
berkeliling di atas kepala
Sudah
tahukah apa yang mereka incar?
Keputusan
kosong yang melepas daging jemuh seperti balon dengan karbitnya
Melayang,
di cucuk camar itu dan meleltus
Berhamburan
dalam penat dan kebingungan
Hardik-hardiklah otak muda pada jiwa pembelot
Yang
memilih tidur di ranjang empuk
daripada menahan kebebasan di ruangan tekstil
pengap penuh mayat hidup
mana
yang lebih pantas?
Biarlah
omelan ibu atau pengawas pabrik yang tentukan
Masih
dengan jiwa?
Rentahnya
itu masih muda, balitapun sudah berjiwa tua
Dewasa
takkan bisa mengambil banyak dari kehidupan
Karena
jiwanya sudah mati oleh rutinitas dan nafsu
Ketika
umurnya 17 tahun tampangnya rupawan dan sedap dipandang, tapi jiwanya?
Seperti
kecepatan cahaya,melesat menembus kekosongan 40 tahun tuanya.
Jika
ada yang masih menggunakan jiwa di masa mudanya,
maka lebih baik yang diajak diskusi adalah
manula.
Penulis adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
Universitas Negeri Malang
Penulis:Ferry Yuli Rakhmanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Sematkan nama dan instansi. Gunakan tutur bahasa yang baik dan sopan.